Mengurangi biaya produksi bagi produsen produk-produk kimia bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan, bila tetap ingin berkompetisi dengan produsen lainnya.
Serbuan produk-produk impor dari negara-negara tetangga semakin membuat produsen di dalam negeri kesulitan untuk bersaing. Apalagi, para pesaing dari luar negeri memiliki keunggulan dari sisi kapasitas yang jauh lebih besar serta dukungan negara yang memberikan jaminan bahan baku yang relatif lebih murah.
Di sisi lain, perusahaan harus mampu berpikir bagaimana mengurangi biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produknya.
Nah, pada postingan kali ini kita akan mempelajari bagaimana strategi melakukan penghematan biaya produksi, yang bisa kita lakukan mulai hari ini, berdasarkan pengalaman pribadi penulis menerapkannya
Mari kita mulai.
1. Optimasi Kondisi Reaksi
Langkah pertama untuk memastikan bahwa biaya produksi pada level optimal adalah dengan melakukan optimasi pada sisi kondisi reaksi. Kondisi reaksi yang optimal akan menjamin konversi bahan baku menjadi produk pada level efisiensi tertinggi.
Tekanan, suhu, laju alir, rasio bahan baku, waktu pengadukan dan parameter proses lain harus dipastikan pada kondisi terbaik.
Kuncinya, lakukan evaluasi secara berkala dan pastikan seluruh data proses dan reaksi dapat dipantau secara real time.
Dengan kondisi reaksi yang optimum, maka yield atau tingkat perolehan akan berada pada titik terbaiknya.
2. Penerapan Pinch Analysis
Daripada melakukan proses analisa proses satu per satu untuk melakukan penghematan energi, lebih baik dilakukan secara terintegrasi dengan menggunakan pinch analysis.
Dengan membuat jaringan heat exchanger, optimasi penggunaan energi (steam, listrik, cooling water, dan lainnya) dapat dilakukan.
Tidak hanya mampu mengoptimalkan penggunaan energi, penerapan picnh analysis juga secara otomatis akan menurunkan tingkat emisi GHG atau Greenhouse Gas alias emisi karbon dioksida.
Silahkan lihat studi kasus penerapan pinch analysis di sini.
3. Manajemen Korosi Proaktif
Masalah pipa bocor atau tanki bocor karena korosi, dapat menyebabkan pabrik shutdown yang tidak terduga. Dan tentu saja mengakibatkan hilangnya produk.
Frekuensi pabrik shutdown dan startup juga membuat biaya produksi naik signifikan, karena kedua proses operasi tersebut mengkonsumsi banyak utilitas bahkan raw material.
Masalah korosi adalah biaya tersembunyi, yang sering tidak disadari. Salah satu “biaya tersembunyi” terbesar di pabrik kimia adalah kerusakan aset akibat bahan kimia korosif.
Namun, yang lebih fatal adalah ketika masalah korosi ini mengakibatkan munculnya masalah K3, seperti terjadi di Chevron, AS, pada tahun 2002 lalu.
Manajemen korosi yang efektif akan mampu mengurangi potensi biaya yang akan muncul karenanya.
4. Memperbaiki Kualitas Bahan Baku
Semakin tinggi kualitas atau kemurnian bahan baku yang masuk ke dalam sebuah proses, maka semakin efisien proses tersebut. Sebagai contoh, umpan reaktor berfasa gas dengan kemurnian 99.5% tentu tidak akan memerlukan purging gas berlebihan dibandingkan dengan umpan gas dengan kemurnian hanya 93%.
Komponen lain di dalam umpan bahan baku – inert gas misalnya – akan terakumulasi di dalam reaktor dan harus dilakukan purge secara berkala, agar tekanan di dalam reaktor tetap stabil.
Masalahnya, proses purging tidak hanya mengeluarkan inert gas, tetapi juga gas lain yang justru merupakan bahan baku atau uap pelarut misalnya, yang seharusnya tidak dikeluarkan dari reaktor.
Selain problem tadi, kadang perubahan kualitas bahan baku juga mengharuskan perubahan kondisi operasi, agar tingkat konversi dapat dijaga. Misalnya suhu atau tekanan yang diperlukan menjadi lebih tinggi. Akibatnya, konsumsi energi juga akan ikut naik.

5. Predictive Maintenance
Preditive maintenance adalah sebuah metode perawatan mesin yang pelaksanaannya didasarkan pada kondisi mesin, setelah dilakukan evaluasi data operasi mesin, sebelum mesin mengalami masalah.
Predictive maintenance sangat efektif dan memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan metode lain yaitu reactive maintenance atau repair maintenance dan preventive maintenance yang didasarkan pada waktu.
Apa saja kelebihan metode pemeliharaan ini?
Ini dia beberapa diantaranya:
- Meminimalisir downtime mesin secara tidak terduga
- Mengurangi biaya pemeliharaan mesin
- Menjaga performa peralatan dan tentu saja waktu operasinya
- Memaksimalkan usia pakai mesin
Kunci sukses untuk menerapkan metode ini terletak pada pengumpulan data operasi, analisa data serta kemampuan memprediksi akan munculnya masalah pada mesin serta menentukan tindakan yang tepat.
6. Efisiensi Supply Chain
Hindari single supplier. Selain beresiko terhentinya suplai bahan baku, single supply juga menutup kemungkinan untuk mendapatkan harga terbaik.
Apalagi, apabila bahan baku masih harus diimpor. Sangat beresiko.
Lalu, pastikan anda memilih returnable packaging seperti ISO tank container dari pada kemasan sekali pakai drum atau IBC tank misalnya. Dengan menggunakan returnable packaging, harga pembelian akan lebih murah.
Selanjutnya, jangan lupa untuk meminimalkan resiko biaya asuransi dan kargo dengan memilih incoterms, seperti FOB atau CIF (silahkan baca istilah dalam purchasing untuk info lebih lanjut).
Untuk menghindari shortage, pastikan safety stock ditentukan dengan presisi dan selalu dijaga secara konsisten.
7. Penggunaan Ulang Air
Cooling tower dan scrubber tanki HCl adalah contoh 2 unit operasi yang menggunakan air dalam prosesnya. Blow down cooling tower biasanya hanya dibuang begitu saja. Padahal, kita masih bisa menggunakannya kembali untuk proses yang lain.
Penggunaan ulang bisa dilakukan secara langsung atau melalui treatment terlebih dahulu, tergantung dari persyaratan prosesnya.
Selain itu, apabila proses yang dijalankan menggunakan steam sebagai media pemanasnya, maka anda bisa melakukan recovery steam condensate untuk digunakan ulang.
Bahkan ketika kita mengoperasikan kompresor udara atau air compressor untuk memproduksi instrument air dan plant air, maka kita melakukan recovery air kondensat setelah udara panas melewati cooler dan separator.
Ide lainnya adalah dengan cara melakukan rain water harvesting atau panen air hujan. Cara ini sangat mudah dan bisa diterapkan tanpa biaya investasi yang besar.
8. Lakukan Otomatisasi Proses Manual
Penggunaan automated dosing pump dengan sistem kontrolnya adalah salah satu contoh upaya mengurangi biaya produksi, untuk mengindari over charge dari proses manual.
Contoh lainnya adalah penggunaan timer untuk proses pencucian kemasan dengan menggunakan air. Suplai air akan diatur waktu dan flow ratenya secara otomatis. Selain hasil lebih konsisten, penerapan cara ini juga akan mengurangi konsumsi air yang berlebihan.
Bayangkan bila 1% saja biaya yang bisa kita hemat, maka dalam satu tahun, kita akan lihat dampaknya.
Anda bisa menerapkan prinsip yang sama untuk proses atau operasi yang masih menggunakan cara-cara manual lainnya.
9. Memperbaiki Manajemen Inventori
Menyimpan bahan baku, bahan penolong termasuk spare parts dalam jumlah yang cukup sangat penting. Akan tetapi tidak semua stock barang harus disimpan dalam jumlah banyak, dengan alasan safety stock atau minimum stock.
Mulai kurangi stok barang atau material yang tidak bersifat kritis. Caranya, anda bisa bekerja sama dengan suplier untuk jangka waktu tertentu dengan catatan suplier dapat melakukan pengiriman dengan frekuensi tinggi tapi volume kecil.
Selain mengurangi biaya penyimpanan, cara seperti ini juga dapat menjaga area kosong di dalam pabrik pada tingkat yang cukup.
Kontrak jangka waktu tertentu – 1 tahun misalnya dengan harga tetap – berpotensi mengurangi biaya produksi. Karena suplier akan memberikan harga relatif lebih murah karena ada kepastian order. Selain itu, cara ini juga menhindari kenaikan harga yang setiap saat bisa terjadi.
Untuk mesin seperti pompa, apabila akan dilakukan penggantian, maka anda harus mempertimbangkan pompa di mana suplai spare partnya ada di dalam negeri. Supaya biaya impor hilang, inventory dapat diturunkan karena lead time menjadi pendek, dan tentu saja ketika ada masalah shortage spare part, suplai bisa lebih cepat.
10. Lakukan Audit Proses
Melakukan audit layaknya kita melakukan inspeksi ulang atas seluruh peralatan produksi dan proses produksi.
Kita ambil satu contoh. Misalnya, ada 2 pompa air yang beroperasi secara kontinu selama 24 jam sehari, masing-masing menyuplai pada proses yang berbeda.
Kenapa kita tidak pertimbangkan untuk mengganti 2 pompa menjadi 1 pompa dengan kapasitas yang mampu untuk menyuplai untuk kedua proses?
Nantinya hanya akan ada 1 pompa yang beroperasi saja, tentu dengan efisiensi lebih baik dan konsumsi listrik pun akan lebih sedikit. Sebagai tambahannya, kita bisa manfaatkan 1 pompa sebagai stand by pump.
Apabila suplai air untuk pabrik dilakukan oleh suplier melalui pipa, lakukan review apakah tekanan suplai masih cukup untuk direct suplai ke proses atau tidak. Apabila masih cukup, pasang pipa by pass tanki penyimpanan air, sehingga anda tidak perlu lagi menggunakan pompa untuk menyuplai air dari tanki ke proses.
11. Manfaatkan Kemajuan Teknologi
Contoh menghemat biaya dengan cara memanfaatkan teknologi adalah memilih teknologi yang lebih efisien.
Misalnya anda berencana untuk mengganti mesin chiller yang telah dioperasikan 25 tahun yang lalu, dengan konsumsi listrik 400kW. Maka, sebelum penggantian, pastikan teknologi terkini yang anda pilih dan yang paling efisien.
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, cara ini dapat mengurangi biaya antara 20-40%.
Selain itu, luangkan waktu yang cukup untuk melakukan study pada merk atau brand mesin yang lain, yang mungkin saja lebih hemat energi. Anda tidak perlu mempertahakan merk yang sama selamanya.
12. Menghitung Ulang Biaya Produksi Sub-Proses
Apabila masih terdapat material produksi yang masih anda produksi sendiri, air demin misalnya, maka anda perlu menghitung ulang biaya produksinya. Lalu, anda bandingkan apabila anda membelinya langsung melalui suplier.
Bisa jadi, anda akan memperoleh biaya pembelian yang lebih murah, daripada harus memproduksinya sendiri.
Selain itu anda pun berpotensi mengurangi biaya perawatan, pembelian spare part, safety yang lebih baik, dan jumlah limbah dapat anda kurangi juga. Bahkan, keandalan proses produksi juga dapat menjadi lebih baik.
Namun, kondisi sebaliknya pun bisa terjadi. Artinya, apabila saat ini material dibeli dari pihak lain mengapa tidak diproduksi sendiri.
Contohnya adalah gas nitrogen.
Apakah saat ini anda menggunakan gas nitrogen untuk keperluan proses produksi? Apabila iya, mengapa tidak melakukan study untuk menggunakan nitrogen generator untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Kesimpulan
Agar tetap dapat menghasilkan profit, perusahaan kimia harus mampu mengendalikan biaya produksi pada tingkat tertentu, bahkan akan lebih baik apabila mampu mengurangi biaya produksi yang cenderung naik setiap tahunnya. Mulai terapkan strategi di atas agar pabrik beroperasi secara efisien, dengan tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan.


