Mari Mengenal 5 Teknik Pengendalian Bahaya di Tempat Kerja

teknik pengendalian bahaya

Ada beragam potensi bahaya di tempat kerja. Sebut saja misalnya bahaya kimia, bahaya biologi, bahaya fisik, bahaya ergonomi, bahaya psikologi, bahaya lingkungan dan bahaya radiasi.

Kecelakaan kerja dapat terjadi apabila potensi bahaya-bahaya k3 yang ada di tempat kerja tersebut tidak dikendalikan dengan baik.

Mari kita lihat satu contoh saja.

Jika ada potensi bahaya kebakaran, namun anda tidak melakukan pengendalian dengan tepat, maka apa yang akan terjadi?

Kebakaran !

Jadi, pengendalian bahaya memegang peranan sangat penting dalam pencegahan kecelakaan kerja.

Identifikasi Bahaya

Namun, sebelum dapat melakukan upaya-upaya pengendalian bahaya k3, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan seluruh potensi bahaya telah diidentifikasi.

Pastikan proses identifikasi anda lakukan dengan teliti.

Jangan sampai ada potensi bahaya yang tidak teridentifikasi.

Ketika ada potensi bahaya yang gagal diidentifikasi, maka itu artinya anda tidak akan pernah bisa mengendalikan potensi bahaya tersebut.

Sampai ia teridentifikasi.

Jika seluruh potensi bahaya telah diidentifikasi dan dievaluasi tingkat resikonya, maka langkah selanjutnya adalah memilih teknik pengendalian bahaya yang tepat.

Penerapan teknik pengendalian bahaya yang tepat menjadi sangat penting dalam meminimalkan dampak dari potensi bahaya k3 yang ada.

 

5 Teknik Pengendalian Bahaya

bahaya di tempat kerjaAda 5 (lima) teknik pengendalian bahaya yang lebih populer dengan istilah hirarki pengendalian bahaya atau hazard control hierarchy atau hierarchy of control.

Hirarki pengendalian bahaya inilah yang menjadi prinsip utama pengendalian bahaya di tempat kerja.

Kelima teknik pengendalian bahaya tersebut adalah:

  1. Elimination
  2. Reduction
  3. Engineering control
  4. Administrative control
  5. Personal Protective Equipment (PPE)

Tata urutan pengendalian bahaya k3 yang benar adalah dengan mengikuti hieararchy of control di atas.

Artinya, teknik pengendalian bahaya dipilih berdasarkan tata urutan di atas, dimulai dari teknik tertinggi yakni elimination atau eliminasi.

Tidak langsung memilih teknik nomor 5 misalnya.

Baik, sekarang kita bahas secara singkat apa yang dimaksud oleh kelima teknik di atas.

Elimination: dengan menggunakan teknik ini, bahaya dihilangkan sama sekali dari tempat kerja atau area kerja.

Reduction: teknik ini tidak dapat menghilangkan bahaya k3 seperti teknik pertama, tapi hanya menurunkan tingkat bahayanya.

Engineering control: teknik ini diterapkan dengan cara melakukan rekayasa atau modifikasi, untuk mengurangi paparan bahaya dari sumbernya.

Administrative control: dengan menggunakan teknik yang satu ini, bahaya dikendalikan dengan menyediakan prosedur operasi atau SOP, pengaturan jam kerja, dan lain-lain.

Personal Protective Equipment: paparan bahaya dikendalikan dengan menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

Contoh Penerapan Teknik Pengendalian Bahaya di Tempat Kerja

Untuk memberikan pemahaman dan penerapan setiap teknik pengendalian bahaya di atas, mari kita lihat beberapa contoh yang telah dilakukan di lapangan.

Contoh penerapan teknik elimination:
Untuk memenuhi kebutuhan air bebas mineral, sebuah perusahaan menggunakan teknologi penukar ion. Asam klorida (HCl) dan natrium hidroksida (NaOH) digunakan sebagai bahan kimia untuk proses regenerasi resin kation dan resin anion.

Masalahnya, HCl dan NaOH adalah bahan kimia B3. Keduanya memiliki potensi paparan bahaya kimia terhadap pekerja dan lingkungan.

Untuk menghilangkan potensi bahaya dari kedua bahan kimia B3 tersebut, maka perusahaan memutuskan untuk membeli air bebas mineral dari pihak ketiga. Dan unit penukar ion yang dimiliki tidak akan operasikan kembali dan semua peralatan akan didemolished.

Artinya HCl dan NaOH pun tidak digunakan lagi.

Jadi, potensi bahaya pada contoh ini dihilangkan sama sekali dengan memanfaat teknik elimination.

Contoh penerapan teknik reduction:
Untuk keperluan water treatment digunakan gas khlor atau Cl2. Penggunaan khlor meninggalkan residue atau sisa yang dapat menyebabkan pencemaran air.

Penggunaan khlor kemudian digantikan dengan H2O2 atau hidrogen peroksida, yang tidak meninggalkan residue berbahaya ketika digunakan selain oksigen dan air.

Contoh penerapan teknik engineering control:
Salah satu contoh penerapan teknik engineering control adalah penggunaan cover atau penutup pada motor pompa atau kompresor agar putaran blade motor tidak membahayakan pekerja.

Conton lainnya adalah pemakaian forklift dengan penggerak elektrik untuk menggantikan forklift berbahan bakar solar. Penggantian ini menghilangkan potensi gas buang berbahaya.

Contoh yang lain, penggunaan silincer untuk mengurangi tingkat kebisingan yang bersumber dari pembuangan gas bertekanan tinggi.

Contoh penerapan teknik administrative control:
Berikut ini adalah beberapa contoh penerapan teknik administrative control:
-Membatasi jam kerja malam
-Merotasi pekerja yang sering terpapar bahan kimia B3
-Pembatasan akses ke dalam suatu area kerja yang berbahaya
-Penggunaan tanda peringatan akan bahaya tertentu

Contoh penerapan teknik personal protective equipment:
Penggunaan APD yang tepat dan lengkap adalah kunci keberhasilan dari penerapan teknik ini. Bukan asal pakai. Teknik ini biasanya digabung dengan teknik administrative control, sebagai media komunikasinya.

1 Komentar

  1. Pingback: Masa Pakai Kacamata Safety

Tinggalkan Balasan