Browsing: K3

MSDS Asam Asetat

msds asam asetat

Tentu anda tidak asing lagi dengan bahan kimia yang satu ini. Bahkan mungkin hampir setiap hari mengkonsumsinya.

Asam asetat – dengan rumus kimia CH3COOH – atau asam cuka adalah senyawa organik yang merupakan asam lemah, yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Sebut saja misalnya untuk pembuatan asinan atau manisan.

Meskipun asam asetat adalah asam lemah, namun perlu diingat bahwa asam asetat dengan konsentrasi tinggi bersifat korosif dan dapat merusak kulit.

Coba perhatikan.

Pada saat anda membeli cuka di warung, konsentrasi asam asetatnya bisa mencapai 70%.

Sangat tinggi.

Namun sayang, jarang dari kita yang berhati-hati dalam penanganan asam asetat ini.

Nah mulai sekarang, supaya aman pastikan anda telah memahami apa saja potensi bahaya dari asam asetat yang anda gunakan.

Caranya?

Tentu saja informasinya ada di dalam MSDS asam asetat. Lengkap semuanya ada.

Download MSDS Asam Asetat

Untuk mendownload MSDS asam asetat, silahkan anda klik kanan link-link di bawah ini.

Lalu, save as link.

Asam Asetat 5%

Asam Asetat 30%

Asam Asetat 50%

Asam Asetat 70%

Asam Asetat 90%

{ 1 Comment }

Label Bahan Berbahaya dan Beracun Menurut Standar GHS

label b3 GHS

Selain SDS (safety data sheet) atau MSDS (material safety data sheet), persyaratan dokumen lainnya yang terkait dengan bahan berbahaya dan beracun atau B3 adalah label.

Label B3 ditempel pada kemasan atau packaging. Agar pengguna bahan kimia tersebut mengetahui dengan pasti isi bahan dalam kemasan, sifat dan tatacara penanganannya.

Pada prinsipnya, label merupakan ‘rangkuman’ atau format sederhana dari SDS B3.

Jika perusahaan anda merupakan produsen bahan kimia yang termasuk ke dalam kelompok B3, maka label harus dipersiapkan.

Persyaratan Konsumen Akan Label Bahan Berbahaya dan Beracun

Perusahaan-perusahaan kini semakin memiliki kepedulian untuk dapat memenuhi persyaratan, salah satunya GHS atau Globally Harmonized System yang dikeluarkan oleh PBB ini.

Terkait dengan label B3 pun demikian.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, bahkan ada konsumen yang mensyaratkan label B3 yang dikirim ke mereka harus memenuhi persyaratan GHS.

Jika tidak, maka barang yang dikirim tidak akan diterima.

Sebenarnya permintaan dari konsumen ini menjadi masukan positif buat produsen.

Mengapa?

Karena konsumen lain bahkan pasar ekspor hampir dapat dipastikan akan dapat menerimanya pula.

Lalu, bagaimana sih format label B3 menurut GHS itu?

Format Label B3 Menurut GHS

Ada 7 informasi yang harus tercantum pada label B3. Ketujuh informasi tersebut dapat kita ambil dari SDS.

  1. Nama dagang produk
  2. Penjelasan mengenai bahaya bahan b3
  3. Rincian barang berbahaya atau Dangerous Goods, yang meliputi UN Number, class dan packaging group
  4. Klasifikasi Bahaya Menurut GHS, yang meliputi GHS signal word, GHS hazard statement, GHS precautionary statement, GHS symbol dan informasi mengenai bahaya
  5. Nama produsen dan distributor bahan, termasuk alamat dan nomor kontak emergency.
  6. Informasi rinci tentang produk: tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, nomor batch atau lot number dan berat bersih.
  7. Informasi tambahan lain seperti sertifikat halal.

Untuk melihat contoh label B3 versi GHS, silahkan klik di sini.

{ 1 Comment }

Bagaimana Mempersiapkan Hot Work Agar Tetap Aman?

pekerjaan hot work

Menurut ccohs.ca, hot work didefinisikan sebagai bekerja dengan menggunakan sumber api yang berdekatan dengan bahan yang mudah terbakar atau flammable material.

Dari sisi resiko, tentu saja hot work mengandung banyak potensi bahaya K3.

Diantara potensi bahaya hot work adalah kebakaran, terbakar, ledakan, kerusakan sistem pernapasan, gas bertekanan, kekurangan oksigen, logam panas, potongan logam yang tajam dan sengatan listrik.

Lalu, bagaimana caranya agar kita tetap aman ketika melakukan hot work?

Mari kita simak tipsnya agar tetap aman.

Tips Hot Work Agar Tetap Aman

Persiapan yang baik merupakan kunci agar hot work yang kita lakukan bisa tetap aman.

Artinya tidak ada kecelakaan kerja atau resiko K3 yang terjadi.

Ini dia tipsnya:

  1. Hindari hot work, jika masih memungkinkan. Gunakan metode selain pengelasan atau welding, seperti sistem baut atau flange.
  2. Sebelum memulai hot work, lakukan hazard assessment terlebih dahulu.
  3. Hanya mereka yang terlatih saja yang dapat terlibat dalam pekerjaan hot work.
  4. Tugaskan hot work supervisor, fire watch dan operator pengelasan yang terlatih.
  5. Pastikan area yang akan digunakan untuk pekerjaan panas bebas dari bahan-bahan yang mudah terbakar.
  6. Pastikan semua peralatan yang digunakan – termasuk mesin las – dalam kondisi baik dan siap pakai.
  7. Lakukan pengecekan terhadap semua peralatan yang akan digunakan.
  8. Pasang kabel grounding yang memadai dan pastikan kabel dalam keadaan baik.
  9. Periksa semua kondisi kabel yang digunakan. Pastikan semua kabel baik, tidak ada yang terkelupas.
  10. Semua silinder gas sudah dipastikan aman dan disimpan dalam kondisi stabil.
  11. Tempatkan alat pemadam api ringan atau APAR yang sesuai, dekat dengan lokasi pengelasan.
  12. Pastikan jalan yang menuju ke eye washer dan shower bebas dari hambatan atau penghalang.
  13. Tim P3K sudah disiapkan dan siap membantu.
  14. Jika pekerjaan dilakukan dalam ruangan, periksa bahwa sistem ventilasi dalam keadaan baik.
  15. Jika pekerjaan dilakukan dalam sebuah confined space, lakukan pengecekan LEL atau lower explosion limit bahan mudah terbakar.
  16. Kenakan APD atau alat pelindung diri yang sesuai untuk pekerjaan hot work seperti pelindung mata, pelindung telinga, safety boots, sarung tangan tahan api, baju tahan api dan pelindung pernapasan.
  17. Gunakan kain pelindung tahan api jika bahan-bahan mudah terbakar yang ada di sekitar lokasi pekerjaan tidak dapat dipindahkan.
  18. Jika memungkinkan pindahkan lokasi hot work ke area yang lebih aman.
  19. Jika pengelasan atau hot work dilakukan pada fasilitas existing, maka semua bahan yang mudah terbakar yang masih ada di dalam pipa atau alat harus dibersihkan terlebih dulu.
  20. Gunakan pressure gauge yang terkalibrasi untuk mengukur tekanan gas dalam silinder.
  21. Pastikan semua alat komunikasi siap dan berfungsi, ketika diperlukan.
  22. Smoke detector yang berada di sekitar lokasi hot work, untuk sementara dinonaktifkan untuk sementara.
  23. Terakhir, pasang safety line pada area hot work agar orang yang tidak berwenang tidak bebas masuk ke area pekerjaan.

{ Add a Comment }

Yang Harus Anda Tahu Mengenai Bahaya Metanol

bahaya metanol

Salah satu sifat metanol yang paling harus anda perhatikan adalah sifatnya yang beracun. Masih ingatkah anda kasus kematian sia-sia beberapa orang setelah mengonsumsi miras yang dioplos dengan metanol?

Dari beberapa korban yang masih dapat diselamatkan, ternyata ada diantara mereka mengalami kehilangan pengelihatan permanen.

Dari fakta ini terbukti bahwa memang metanol adalah bahan kimia yang sangat beracun! [Continue reading…]

{ Add a Comment }

Cermati Potensi Bahaya di Gudang Berikut Agar Tetap Aman

potensi bahaya di gudang

Mengapa keselamatan kerja di gudang sangat penting? Paling tidak ada tiga alasan penting.

  • Pertama, untuk melindungi karyawan yang bekerja di gudang.
  • Kedua, untuk melindungi aset perusahaan yang tersimpan di gudang
  • Ketiga, untuk menjamin keberlangsungan usaha perusahaan

Sekarang kita bayangkan, apa saja yang tersimpan di gudang…

Bahan baku, sparepart, bahan kimia, kemasan, barang setengah jadi sampai dengan barang jadi.

Jika dihitung-hitung, bisa jadi lebih dari 30% aset perusahaan di simpan di gudang.

Bisa jadi jumlah ini jauh lebih besar jika barang jadi numpuk dan masih disimpan di gudang.

Bayangkan jika terjadi kebakaran misalnya. Maka bisa dibayangkan berapa potensi kerugian yang akan diderita oleh perusahaan.

Pastinya besar, bukan?

Pentingnya Identifikasi Potensi Bahaya di Gudang

Seperti halnya lokasi atau area kerja lain, gudang atau warehouse menyimpan begitu banyak potensi bahaya atau resiko K3.

Untuk mengetahuinya, maka identifikasi harus dilakukan secara seksama.

Dengan identifikasi maka satu-persatu potensi bahaya bisa dipetakan.

Setelah itu, lakukan rencana pengendalian bahaya yang paling efektif.

Artinya teknik pengendalian bahaya yang dipilih harus tepat dengan potensi bahaya yang ada.

Tidak hanya menggunakan APD. Atau menggunakan prosedur saja.

Tapi disesuaikan dengan masing-masing potensi bahaya.

Jenis Potensi Bahaya di Gudang

Potensi bahaya satu gudang dengan gudang yang lain bisa berbeda-beda.

Ini tergantung dari lokasi gudang, desainnya, jenis bahan yang tersimpan di gudang, kelengkapan fasilitas, kemudahan akses masuk dan keluar, dan lain-lain.

Nah, pada saat melakukan proses identifikasi bahaya atau resiko K3, maka pastikan semua informasi di atas sudah anda pahami.

Selanjutnya semua kegiatan yang dilakukan di gudang anda sudah identfikasi pula.

Pastikan tidak ada yang terlewat. Buat dalam bentuk list supaya semua tercatat dengan baik.

Sekarang kita asumsikan anda telah menyelesaikan identifikasi bahan dan kegiatan.

Di bawah ini ada potensi bahaya di gudang, yang sifatnya umum. Anda bisa menggunakannya sebagai pertimbangan ketika melakukannya sendiri:

Tempat Penyimpanan dan Sistem Rak

Potensi bahaya yang terkait dengan tempat penyimpanan dan sistem rak diantaranya adalah

  • Rak tempat penyimpanan terjatuh, sebagian atau seluruhnya karena getaran atau kondisi rak yang tidak baik
  • Rak tertabrak forklift yang mengakibatkan barang yang tersimpan di atas rak jatuh
  • Barang yang tersimpan di atas rak jatuh menimpa orang atau forklift
  • Orang tertabrak forklift pada saat proses penyimpanan atau pengambilan barang dari rak
  • Kemasan bocor, bahan kimia B3 tercecer, terkena orang atau bisa menyebabkan kebakaran
  • Reaksi antara dua bahan kimia yang bocor keluar dari kemasannya. Biasanya kasus seperti ini bisa menghasilkan bahan kimia lain yang berbahaya.
  • Kebakaran
  • Terjatuh dari ketinggian pada saat pengambilan atau penyimpanan barang

Area Loading dan Unloading

Pada area ini proses menurunkan barang dari truk ke tempat penyimpanan dilakukan.

Selain itu, aktivitas menaikkan barang jadi dari tempat penyimpanan ke atas truk juga dilakukan untuk dikirimkan.

Potensi bahaya yang terkait dengan area ini antara lain:

  • Tertabrak truk pengangkut
  • Terjepit di antara truk dan tempat penyimpanan barang
  • Tertabrak forklift
  • Tertimpa barang yang belum diamankan
  • Tabrakan antara forklift dengan truk
  • Menghirup gas beracun karbon monoksida pada gudang yang tertutup dengan ventilasi yang tidak baik. Gas bisa berasal dari genset atau asap kendaraan bermotor
  • Terpeleset karena lantai licin
  • Tersandung
  • Terbentur
  • Kebakaran
  • Jika terdapat manual handling atau manual lifting maka potensi bahaya seperti cegera punggung, cedera otot atau tertimpa benda berat bisa terjadi.
  • Terjatuh dari ketinggian
  • Jika conveyor digunakan, maka potensi bahaya seperti terjepit atau terlilit mesin conveyor yang berputar bisa terjadi.
  • Tersengat aliran listrik
  • Jika pengemasan barang atau bahan dilakukan di gudang maka potensi bahaya seperti terpapar bahan kimia B3 bisa terjadi.

Lakukan Identifikasi Secara Berkala

Pada saat proses identifikasi yang pertama kali, bisa jadi ada potensi bahaya yang belum teridentifikasi.

Hal seperti ini sangat umum terjadi. Anda tidak perlu risau.

Selanjutnya, jika terdapat bahan kimia baru yang digunakan, maka identifikasi bahaya juga perlu dilakukan kembali.

Termasuk adanya perubahan fasilitas di gudang, maka identfikasi ulang juga harus dilakukan.

Nah, agar semua potensi bahaya teridentifikasi, maka lakukan proses identifikasi secara berkala.

Buat prosedur yang jelas yang menetapkan frekuensi tinjauan ulang atas daftar potensi bahaya harus dilakukan.

Tetapkan pula kondisi seperti apa yang menyebabkan proses identfikasi ulang harus dilakukan.

Akan tetapi, jika anda tidak konsisten dalam menerapkan prosedur yang anda tetapkan sendiri, maka semuanya tidak ada gunanya.

{ Add a Comment }

Apa Itu Integrated Management System?

integrated management system

Penerapan sistem managemen atau management system di perusahaan sudah menjadi prasyarat mutlak agar perusahaan tetap bisa survive.

Mengapa demikian?

Karena para konsumen yang menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan menginginkan produk yang kualitasnya tinggi serta konsisten.

Bukan produk dengan kualitas tinggi hari ini. Tetapi bulan depan kualitasnya menurun.

Selain faktor kualitas produk, kini konsumen pun menuntut untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan dan aman bagi manusia.

Konsumen menuntut perusahaan untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan, yang meliputi seluruh rangkaian proses produksi yang dilakukan sampai dengan produk yang mereka hasilkan.

Dan faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana perusahaan mengelola sistem manajemen keselamatan (K3) atau safety dengan baik.

Integrated Management System Sebagai Solusi

Sistem manajemen terintegrasi atau integrated management system menjadi pilihan yang tepat bagi perusahaan untuk menerapkan ISO 9001 (quality management system), ISO 14001 (environment management system) dan ISO 45001 (occupational health and safety management system) secara terintegrasi.

Maka dengan menerapkan integrated management system seluruh dokumen yang terkait bisa dibuat secara integrated pula.

Baik itu manual, prosedur maupun catatan.

Selain dari sisi dokumentasi menjadi satu kesatuan, pelaksanaan proses audit pun bisa dilakukan dalam satu waktu untuk ketiga sistem manajemen secara sekaligus.

Termasuk pelaksanaan managment review meeting nya.

Lebih simpel.

Tentu saja hal ini akan menghemat banyak waktu dan biaya yang harus dikeluarkan.

Langkah Berikutnya

sistem manajemen K3Jika memang perusahaan memutuskan untuk menerapkan sistem manajemen secara terintegrasi, maka persiapan pertama yang harus dilakukan adalah menentukan badan atau perusahaan konsultasi ISO.

Memang perlu?

Tentu saja iya.

Perusahaan perlu menggali informasi secara detil terlebih dahulu persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan.

Termasuk mempersiapkan master schedule penerapan integrated management system nya.

Nah, peran konsultan akan sangat membantu pada tahap awal ini.

Selanjutnya setelah itu apa yang harus dilakukan?

Secara garis besar, langkah-langkah yang harus dilalui adalah:

  1. Mengadakan awareness training. Training dasar mengenai ISO 14001 serta ISO 45001 yang masih relatif baru bagi tim ISO atau calon tim ISO, tertutama klausul-klausul di dalam kedua standar tersebut. Jika ISO 9001 juga belum diterapkan maka awareness training ISO 9001 harus termasuk di dalamnya.
  2. Mempersiapkan dokumen. Semua dokumen yang sifatnya mandatory harus sudah disiapkan.
  3. Melakukan gap analysis. Mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan dan diperbaiki oleh perusahaan untuk memenuhi persyaratan semua ISO. Perusahaan bisa bekerja sama dengan badan sertifikasi ISO atau perusahaan konsultan untuk tahap ini.
  4. Mengadakan internal audit training. Yang tak kalah penting adalah mempersiapkan anggota tim ISO untuk bisa melakukan proses internal audit untuk semua standar ISO.
  5. Melakukan perbaikan. Pada saat gap analysis akan ada hal-hal yang harus diperbaiki. Lakukan pada tahap ini.
  6. Saatnya untuk diaudit. Jika semua tahapan di atas sudah diselesaikan, maka saatnya untuk diaudit tiba, sebelum sertifikasi diberikan.

Jangan Lupa Siapkan Budget Setiap Tahunnya

Setelah integrated management system diimplementasikan, maka sistem perlu dimaintenance melalui internal audit dan eksternal audit (surveillance audit dan re-certification), dan lainnya.

Siapkan sumber daya dan budget yang diperlukan setiap tahunnya.

Pastikan semua biaya sudah dihitung.

Mintalah informasi dari badan sertifikasi ISO untuk seluruh biaya yang diperlukan, terutama biaya surveillance dan re-certification.

Jangan lupa pula hitung biaya training penyegaran yang diperlukan.

{ Add a Comment }

7 Cara Mencegah Tumpahan Bahan Kimia B3

mencegah tumpahan bahan kimia

Pepatah mengatakan, mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Prinsip yang sama juga berlaku dalam hal penanganan bahan kimia B3.

Mencegah tumpahan bahan kimia B3 jauh lebih baik dari pada mengatasi tumpahan bahan kimia B3.

Karena kalau sudah tumpah, itu bisa berarti kecelakaan, pencemaran dan biaya yang terbuang sia-sia.

Bahkan bisa jadi operasional pabrik dapat dihentikan sementara atau permanen jika dampak yang ditimbulkannya besar. [Continue reading…]

{ Add a Comment }

Safety Slogan Keselamatan Kerja 2020

safety slogan keselamatan kerja

Aspek komunikasi memegang peranan penting dalam pencapaian sasaran keselamatan kerja. Ada banyak media komunikasi yang bisa kita gunakan untuk tujuan ini, termasuk safety slogan keselamatan kerja.

Safety slogan keselamatan kerja memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media komunikasi yang lain:

  • Fleksibel
  • Efektif
  • Mudah dimengerti
  • Murah

Hal terpenting yang perlu anda perhatikan ketika akan menggunakan safety slogan keselamatan kerja adalah kontekstual dan bahasa yang digunakan. [Continue reading…]

{ 3 Comments }

Cara Aman Melakukan Hydrostatic Test

cara aman melakukan hydrostatic test

Hydrostatic test adalah salah satu cara pengujian kekuatan dan kebocoran pada bejana tekan atau pressure vessel – seperti boiler, heat exchanger, reaktor, perpipaan – dengan menggunakan media fluida cair (umumnya air).

Cara melakukan hydrostatic test adalah dengan memasukkan air ke dalam bejana tekan atau perpipaan dengan tekanan tertentu. Kemudian, kondisi bertekanan ditahan sampai jangka waktu tertentu sesuai dengan standar rujukan yang digunakan.

Apabila tidak ditemukan keborocan dan tekanan air di dalamnya tetap, maka dapat disimpulkan bahwa bejana tekan atau perpipaan yang dites lulus uji. [Continue reading…]

{ 2 Comments }

17 Contoh Bahan Kimia Mudah Terbakar

contoh bahan kimia mudah terbakar

Anda mungkin pernah melihat sebuah kalimat pada kemasan atau area penyimpanan bahan kimia ‘hati-hati bahan kimia mudah terbakar‘. Dalam bahasa Inggris, istilah bahan kimia mudah terbakar disebut dengan flammable material.

Bahan kimia mudah terbakar termasuk ke dalam kelompok bahan kimia B3.

Jika dilihat dari fasanya, maka flammable material ada yang berbentuk cairan (liquid), padatan (solid) dan aerosol.

Sekarang yuk kita lihat beberapa contoh bahan kimia mudah terbakar.

25 Contoh Bahan Kimia Mudah Terbakar

Di bawah ini adalah contoh bahan kimia mudah terbakar yang ada di sekitar kita. Bisa jadi, bahan kimia tersebut ada di tempat kerja anda.

  1. Bensin
  2. Solar
  3. Aseton
  4. Benzena
  5. Etanol
  6. Metanol
  7. Minyak tanah
  8. Aerosol
  9. Karbon disulfida
  10. Asetonitril
  11. Vinyl asetat
  12. Toluena
  13. Xylene
  14. N-butanol
  15. Isopropil alkohol
  16. Magnesium
  17. Belerang

Nah, selanjutnya bahasan kita akan difokuskan pada bahan kimia cair yang mudah terbakar atau flammable liquid.

Karena flammable liquid lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan flammable solid dan aerosol.

Ciri-ciri Flammable Liquid

Kriteria utama flammable liquid atau bahan kimia cair mudah terbakar dilihat dari flash point nya.

Apa sih flash point itu?

Flash point adalah temperatur terendah, dimana suatu cairan berubah menjadi uap dalam jumlah tertentu dan menciptakan campuran dengan udara yang dapat terbakar.

Secara umum, semakin rendah flash point suatu cairan maka semakin tinggi pula tingkat kemudahan terbakarnya. Alias semakin berbahaya.

Berdasarkan flash point nya, cairan mudah terbakar dapat dibagi menjadi 3:

  • extremely flammable (sangat-sangat mudah terbakar): flash point kurang dari 0°C dan boiling point (titik diidh)
  • highly flammable (sangat mudah terbakar): flash point kurang dari 21°C
  • flammable (mudah terbakar): flash point nya antara 21-55°C.

Untuk mengetahui data flash point dari suatu bahan kimia, anda bisa menemukannya pada MSDS atau SDS bahan kimia mudah terbakar tersebut.

Tips Mengenali Bahan Kimia Mudah Terbakar

Dari pembagian di atas tadi, kita menjadi lebih mudah mengenali karakteristik bahan kimia mudah terbakar. Selanjutnya, ketika anda menemukan bahan kimia tersebut, maka anda harus hati-hati dalam hal penyimpanan dan pengelolaannya.

Termasuk, mengendalikan sumber api. Jangan sampai kontak dengan bahan kimia mudah terbakar.

simbol bahan kimia mudah terbakarSebenarnya, tanpa mengetahui contoh bahan kimia mudah terbakar pun, anda sudah bisa mengenali dari simbol yang tertera pada kemasan atau tempat penyimpanannya.

Silahkan lihat gambar di samping.

Akan tetapi, seringkali kemasan bahan kimia tersebut tidak dilengkapi dengan simbol yang benar atau simbolnya sudah hilang.

Jadi pastikan simbol di samping ini tertera pada kemasan. Dengan melihat simbol ini, maka anda dengan mudah mengetahui bahwa bahan kimia dalam kemasan tersebut adalah bahan kimia mudah terbakar.

{ 1 Comment }

Tips Aman Penyimpanan Bahan Kimia B3

penyimpanan bahan kimia

Bahan kimia B3 atau bahan kimia berbahaya dan beracun harus disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Cara penyimpanan bahan kimia B3 berbeda dengan dengan bahan non B3.

Kalau di Indonesia, maka rujukan tentang tata cara penyimpanan bahan kimia B3 adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001, yaitu tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Tentu saja sangat dianjurkan untuk mengikuti tata cara penyimpanan sesuai dengan peraturan pemerintah tersebut.

Apalagi, jika dikombinasikan dengan peraturan atau standar terkait yang berlaku di negara lain maupun di dalam industri kimia.

Agar Aman dan Minimal Dampak

Dilihat dari namanya saja, bahan kimia B3 memiliki potensi bahaya yang sangat besar. Anda bisa lihat karakteristik bahan kimia B3 secara lengkap di sini.

Tentu saja dibuatnya aturan tentang tata cara penyimpanan bahan kimia B3 adalah agar aman dan meminimalkan resiko yang akan timbul terhadap keselamatan dan kesehatan kita sebagai manusia, lingkungan, serta mahluk hidup lainnya.

Jadi, pastikan semua bahan kimia yang ada disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku serta mengikuti best practice.

Tips Aman Penyimpanan Bahan Kimia B3

Secara umum, cara penyimpanan bahan kimia B3 sama. Hanya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dengan mempertimbangkan karakteristik atau sifat bahan kimia tersebut.

  1. Pastikan anda sudah membaca dan memahami MSDS atau SDS dari bahan kimia B3 yang akan anda simpan.
  2. Gunakan bahan kemasan yang sesuai dengan sifat dari bahan kimia. Misalnya untuk menyimpan hidrogen peroksida, maka jenis material kemasan atau packaging yang cocok adalah polyethylene atau PE.
  3. Setiap kemasan harus dilengkapi dengan simbol dan label B3.
  4. Segera ganti setiap simbol atau label yang rusak.
  5. Jika kemasannya rusak, segera ganti. Jangan dibiarkan, karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan menciptakan kondisi tidak aman.
  6. Lengkapi tempat penyimpanan bahan kimia dengan eye washer, spill kits, alat pemadam kebakaran, smoke detector dan dekat dengan fire hydrant.
  7. Siapkan MSDS atau SDS setiap bahan kimia dalam area penyimpanan. Pastikan MSDS atau SDS mudah dijangkau, jelas dan dalam versi terbaru.
  8. Pisahkan tempat penyimpanan bahan kimia yang tidak kompatibel atau bisa beraksi.
  9. Jika menggunakan palet, gunakan palet dengan spill containment.
  10. Kendalikan sumber api dari tempat penyimpanan bahan kimia b3, terutama yang bersifat mudah terbakar.
  11. Rancang tempat dan lokasi penyimpanan yang aman.
  12. Siapkan alat pelindung diri yang sesuai, dekat dengan tempat penyimpanan. Dalam jumlah yang cukup.
  13. Pastikan alat pemadam api mudah tersedia dalam jumlah cukup serta tepat jenisnya.
  14. Tempat penyimpanan bahan kimia B3 harus diatur agar hanya dapat diakses oleh orang yang memiliki wewenang.

 

{ Add a Comment }

5 Contoh Penerapan Engineering Control Dalam Pengendalian Faktor Bahaya di Tempat Kerja

penerapan engineering control dalam pengendalian bahaya

Kecelakaan kerja dapat dicegah dengan cara melakukan pengendalian bahaya secara efektif. Anda tentu masih ingat bukan dengan 5 teknik pengendalian bahaya?

Baik. Untuk mengingatkan anda, 5 teknik pengendalian bahaya meliputi:

  • Eliminasi
  • Substitusi atau reduksi
  • Engineering control
  • Pengendalian dokumen
  • Alat pelindung diri (APD)

Nah, kali ini saya akan menunjukkan kepada anda contoh penerapan engineering control dalam pengendalian bahaya di tempat kerja. [Continue reading…]

{ 1 Comment }