Berbicara mengurangi emisi CO2, maka yang terpikirkan pertama kali di kepala kita adalah sesuatu yang rumit, sesuatu memerlukan investasi yang besar.
Tapi, saya berharap Anda mulai mengubah pikiran itu setelah membaca postingan kali ini.
Karena saya akan menggunakan prinsip dari buku Atomic Habits, dalam merekomendasi ide-ide kecil untuk menurunkan emisi CO2.
“Perubahan besar adalah hasil dari ratusan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.” Itulah inti pemikiran James Clear dalam buku Atomic Habits. Ia menjelaskan bahwa menjadi 1% lebih baik setiap hari akan menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar dibandingkan melakukan perubahan drastis tetapi hanya sesekali.
Konsep tersebut ternyata bukan hanya berlaku untuk kehidupan pribadi. Di dunia industri pun, prinsip yang sama juga sangat relevan untuk diterapkan.
Konsepnya sederhana.
Mengurangi emisi CO₂ tidak selalu dimulai dari proyek miliaran rupiah. Tapi kita akan mulai dari keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Mengapa Harus Mengurangi Emisi CO₂?
Ada dua alasan utama mengapa kita mesti terus berupaya mengurangi emisi CO2.
Tuntutan lingkungan dan penggunaan energi.
Artinya, ketika kita berhasil mengurangi konsumsi listrik, steam, gas, atau bahan bakar, bukan saja emisi gas karbon dioksida yang akan berkurang. Akan tetapi, secara otomatis biaya energi juga ikut turun.
Hubungan ini terlihat jelas dari data internasional. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor industri menyumbang sekitar 28% dari konsumsi energi global dan sekitar 24% emisi CO₂ dari pembakaran energi. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri memiliki peluang besar untuk berkontribusi melalui berbagai langkah efisiensi energi.
Kabar baiknya, Anda tidak harus menunggu proyek besar dimulai.
Cukup dengan langkah-langkah kecil yang realistis. Bahkan, langkah yang sangat kecil, di mana Anda tidak akan menemukan kesulitan sama sekali untuk melakukannya.
1. Selalu Matikan Peralatan yang Tidak Digunakan
Kelihatannya sepele. Tetapi coba jalan sebentar di area produksi atau ruangan di pabrik saat jam istirahat.
Masih ada display timbangan katalis yang menyala.
AC tetap menyala di dalam ruang meeting, padahal tidak ada orang di dalamnya.
Lampu alat penghancur kertas tetap menyala.
Exhaust fan tetap hidup padahal area sudah kosong.
Kalau kondisi seperti ini terjadi setiap hari, energi yang terbuang dalam setahun tidak lagi kecil.
Maka, mulailah dengan membuat kebiasaan sederhana.
“Kalau tidak dipakai, matikan.”
Kalimat ini terdengar simpel, tetapi efeknya bisa sangat besar jika telah menjadi budaya.
2. Perbaiki Kebocoran Udara Tekan
Plant Air (PA) dan Instrument Air (IA) adalah udara bertekanan yang digunakan untuk operasional pabrik dan sering disebut sebagai salah satu utilitas paling mahal di pabrik.
Sayangnya, kebocoran kecil PA atau IA sering kali dianggap hal biasa. Padahal suara bocoran yang terdengar di sudut pabrik sebenarnya adalah listrik yang sedang terbuang.
Solusinya, buat program inspeksi mingguan, untuk mencari titik-titik kebocoran.
Perbaiki segera, untuk yeng memungkinkan. Jika tidak, perbaiki saat perbaikan tahunan atau Turn Around (TA).
Semakin cepat ditangani, semakin cepat energi yang terbuang dapat dihentikan.
3. Jangan Biarkan Steam Bocor Terlalu Lama
Secara visual, bocoran steam sangat mudah dikenali. Maka bila di proses Anda menggunakan steam sebagai media pemanasnya, lakukan inspeksi secara teratur.
Pastikan apakah ada flange yang mengeluarkan uap? Apakah ada steam trap yang tidak berfungsi? Atau apakah ada valve yang leakthrough?
Satu titik kebocoran mungkin terlihat kecil. Tapi… kalau dibiarkan terus, maka konsumsi steam akan terus meningkat. Atau bila Anda menggunakan boiler sendiri, maka biaya bahan bakarnya akan terus membengkak.
Ingat, mengurangi satu kebocoran steam berarti mengurangi konsumsi bahan bakar. Dan artinya, emisi CO₂ juga ikut turun.
4. Kurangi Waktu Mesin Menganggur
Mesin produksi yang menyala tetapi tidak memproduksi apa pun tetap menggunakan energi. Hal ini terjadi karena masalah klise, yaitu menunggu.
- menunggu bahan baku,
- menunggu QC,
- pergantian shift,
- menunggu forklift,
- menunggu operator.
Semakin lama mesin idle, semakin besar energi yang terbuang. Pangkas masalah “menunggu” di atas dari sumbernya.
Kadang solusinya bisa jadi jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan.
5. Rapikan Jalur Pergerakan Material
Kalau jalur forklift terlalu rumit, jalannya muter-muter, maka itu artinya konsumsi solar bertambah, listrik bertambah (untuk forklift elektrik), dan waktu kerja bertambah.
Tinjau ulang layout gudang. Sederhanakan. Perpendek jarak.
Memangkas jarak tempuh forklift 5 meter saja, berarti emisi CO2 juga bisa dikurangi.
6. Kurangi Produk Reject Sebanyak 1%
Targetkan produk reject turun 1% pada bulan ini. Kalau ketinggian, bagi sepuluh. Cukup targetkan 0.1% saja. Ingat, produk reject bukan hanya membuang bahan baku, tapi juga secara otomatis mengurangi konsumsi energi, steam, listrik, air, dan waktu kerja operator.
Artinya, setiap produk gagal sebenarnya menyimpan jejak karbon yang sia-sia. Kalau bulan ini reject bisa turun hanya 0.1%, dampaknya jauh lebih besar daripada yang terlihat di laporan produksi.
7. Matikan Lampu Yang Tidak Digunakan
Ide klasik ini meski terdengar usang, tapi masih berguna dalam menurunkan emisi CO2. Coba anda bayangkan. Bila saja ada 10 ruangan di pabrik tempat kerja kita dan semuanya tidak digunakan saat istirahat. Berapa kWh yang bisa kita selamatkan ketika kita mau mematikan seluruh lampu di dalamnya?
Bagaimana jika jumlahnya ratusan lampu?
Dan terjadi setiap hari?
Wah… tentu sangat besar kalau kita hitung dalam hitungan 1 tahun.
8. Periksa Insulasi Pipa Secara Berkala
Insulasi panas atau dingin yang rusak membuat energi terbuang percuma. Boiler dan mesin chiller harus bekerja lebih keras karena harus menutupi energi yang hilang.
Konsumsi bahan bakar dan listrik pun meningkat. Akibatnya, emisi CO₂ pun ikut naik.
Seringnya kita malas memperbaiki insulasi yang rusak, karena tidak tahu berapa energi yang hilang begitu saja. Karena itu, jangan tunggu insulasi rusak total atau tambah parah.
Masukkan pemeriksaan insulasi ke dalam inspeksi rutin maintenance.
9. Kurangi Waktu Startup Mesin
Proses startup mesin apalagi pabrik, memerlukan energi yang tidak sedikit sampai kondisi stabil atau steady statenya tercapai. Semakin tinggi frekuensi startup, maka energi yang terbuang akan semakin tinggi.
Lalu, bagaimana cara mudah mengurangi frekuensi startup mesin? Kuncinya ada pada penjadwalan. Bila ia terkait produksi, maka pastikan mesin dapat beroperasi secara kontinu dalam waktu relatif lama.
Ini tentu saja berlaku tidak hanya proses produksi yang bersifat batch, tetapi juga continuous process.
Langkah kecil ini sering kali memberikan penghematan yang tidak disadari.
10. Bersihkan Heat Exchanger Sebelum Kinerjanya Turun
Tube pada shell and tube heat exchanger yang kotor akibat akumulasi kerak, lumpur atau pengotor lainnya, akan membuat perpindahan panas menjadi tidak optimal.
Akibatnya?
Kebutuhan flow media pemanas atau pendingin bisa bertambah.
Konsumsi listrik untuk pompa dan pemanas atau pendingin juga akan ikut naik.
Padahal masalah utamanya hanya kerak atau fouling. Maka, jangan menunggu performanya turun drastis. Jadwalkan pembersihan berdasarkan data performa, bukan hanya berdasarkan kalender.
11. Gunakan Cahaya Matahari Sebisa Mungkin
Kalau area produksi atau gudang memiliki pencahayaan alami, manfaatkan semaksimal mungkin. Misalnya membuka skylight, membersihkan atap transparan yang sudah kusam, atau membuka tirai di area kantor.
Memang penghematannya tidak besar. Tetapi kalau dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun, hasilnya mulai terasa besar.
Ingat, target kita bukan 100%.
Cukup 1%.
12. Atur Tekanan Udara Tekan Sesuai Kebutuhan
Ada pabrik yang menjalankan kompresor pada tekanan tinggi hanya karena “dari dulu memang begitu.” Padahal belum tentu semua peralatan atau proses membutuhkan tekanan sebesar itu.
Turunkan tekanan beberapa psi atau bar jika memang masih aman untuk proses. Dan otomatis energi yang dibutuhkan kompresor akan ikut berkurang.
Tentu saja, lakukan perubahan ini bersama tim produksi, utility, engineering dan departmen lain yang terkait agar tidak mengganggu operasi, sebelum pengaturan dilakukan.
13. Jangan Menunda Penggantian Steam Trap yang Rusak
Steam trap termasuk komponen yang sering terlupakan. Padahal, satu steam trap yang gagal berfungsi bisa membuang steam selama 24 jam sehari.
Bayangkan jika ada puluhan steam trap dengan kondisi serupa. Karena itu, lakukan inspeksi rutin. Perbaiki atau lakukan penggantian sesegera mungkin
Banyak perusahaan berhasil menghemat energi hanya dengan program monitoring steam trap yang disiplin.
14. Kurangi Perjalanan Dinas yang Bisa Diganti Meeting Online
Tidak semua rapat harus dilakukan secara tatap muka. Kalau tujuan diskusi bisa dicapai melalui video meeting, kenapa tidak?
Selain mengurangi emisi dari kendaraan atau pesawat, kita juga dapat menghemat waktu, biaya perjalanan, dan biaya akomodasi.
Ini contoh sederhana bahwa digitalisasi juga bisa menjadi bagian dari program pengurangan emisi.
15. Budayakan Untuk Melaporkan Kebocoran Sekecil Apa Pun
Sering kali kita melihat kebocoran kecil air, udara tekan, steam, atau oli. Tapi itu semua kita anggap sesuatu yang biasa saja, bukan prioritas.
Padahal, kalau mayoritas melakukan hal yang sama, maka dalam jangka panjang kerugian besar akan terlihat nyata karena compounding-nya.
Kita harus mulai membangun budaya baru. Budaya dimana melaporkan setiap pemborosan yang terjadi. Tidak peduli itu hanya sebuah kebocoran kecil saja.
Kalau melihat kebocoran, laporkan saat itu juga. Tidak perlu menunggu jadwal inspeksi berikutnya.
Semakin cepat diperbaiki, semakin sedikit energi yang terbuang.
Gunakan safety slogan atau toolbox meeting untuk membangun budaya yang baik ini. Bila perlu, buatkan sistem reward yang efektif.
16. Optimalkan Beban Pompa dan Motor
Motor listrik paling efisien ketika bekerja mendekati kapasitas desainnya. Kalau pompa terus bekerja pada kondisi yang jauh dari titik optimal, energi akan terbuang.
Lakukan evaluasi dengan mempertanyakan pertanyaan berikut ini sebagai langkah awal:
- apakah valve terlalu banyak di throttle?
- apakah kapasitas pompa terlalu besar?
- apakah ada pompa yang sebenarnya tidak perlu beroperasi bersamaan?
- apakah minimum flow pompa terbuka penuh saat pompa beroperasi normal?
17. Kurangi Aktivitas yang Tidak Perlu
Pernah bertanya tentang proses yang dilakukan karena “memang dari dulu begitu”? Padahal, kalau dipikir-pikir tidak ada nilai tambahnya yang diperoleh.
Kita lihat beberapa contohnya di bawah ini:
- pencucian tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan,
- pemanasan lebih lama dari standar,
- pengadukan terlalu lama,
- frekuensi pencatatan data yang terlalu sering,
- inspeksi ganda untuk pekerjaan yang sama.
Semua aktivitas tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu mengkonsumsi energi. Dan semua menghasilkan emisi.
Lontarkan pertanyaan yang menohok: “Kalau langkah ini dihilangkan, apakah kualitas produk tetap sama?”
Jangan kaget, pertanyaan sederhana ini sering melahirkan ide Kaizen yang luar biasa.
18. Jadikan Ide Hemat Energi Sebagai Tantangan Bersama
Libatkan seluruh karyawan dalam program pengurangan emisi di tempat kerja. Biarkan mereka mengusulkan ide apapun, tanpa ada batasan.
Buat tantangan sederhana, seperti:
“Satu orang, satu ide hemat energi setiap bulan.”
Memang, tidak semua ide dapat dieksekusi. Tapi, dari banyak ide kecil yang terkumpul, akan ada beberapa yang bisa dieksekusi. Yang menarik, ketika karyawan mulai merasa idenya dihargai, budaya continuous improvement akan tumbuh dengan sendirinya.
Dan di situlah prinsip Atomic Habits mulai bekerja. Perubahan tidak lagi datang dari instruksi atasan. Tapi menjadi kebiasaan sehari-hari.
19. Prioritaskan Supplier Terdekat Jika Kualitasnya Setara
Mulai sekarang, pemilihan supplier bukan dipilih berdasarkan spesifikasi dan faktor harga saja yang menjadi pertimbangan utama. Tapi pertimbangkan juga faktor lain yang sering terlupakan, yaitu jarak pengiriman.
Semakin jauh jarak pengiriman, semakin besar pula konsumsi bahan bakar untuk keperluan transportasinya. Jika ada dua supplier dengan kualitas dan harga yang hampir sama, tidak ada salahnya mempertimbangkan supplier yang lebih dekat.
Selain membantu mengurangi emisi CO₂ dari aspek transportasi, waktu pengiriman juga menjadi lebih singkat dan risiko keterlambatan pun bertambah kecil.
Ini bukan berarti harus selalu membeli dari supplier lokal, tetapi jarak logistik juga layak menjadi salah satu pertimbangan dalam proses purchasing.
20. Gunakan Kertas Secukupnya
Mungkin terdengar kuno karena sekarang semuanya serba digital. Namun kenyataannya, masih banyak dari kita yang mencetak dokumen hanya karena kebiasaan.
Sebut saja misalnya, laporan harian, laporan bulanan, COA, minutes of the meeting. ca sekali.
Mulailah dengan kebiasaan sederhana.
- Review dokumen di layar monitor.
- Gunakan AI untuk mempercepat pengecekan data, sehingga tidak perlu print draft laporan.
- Cetak hanya jika benar-benar diperlukan.
- Gunakan cetak dua sisi.
- Manfaatkan tanda tangan digital jika memungkinkan.
Dampaknya memang kecil, tetapi inilah filosofi artikel ini.
Jangan meremehkan perubahan 1%.
21. Kurangi Meeting yang Tidak Perlu
Bukan hanya perjalanan dinas yang menghasilkan emisi. Meeting yang terlalu sering juga memiliki biaya tersembunyi. Karena saat meeting menggunakan AC, lampu menyala, mungkin menggunakan proyektor juga..
Belum lagi, waktu puluhan orang yang sebenarnya bisa digunakan untuk pekerjaan lain.
Maka, sebelum membuat undangan rapat, coba tanyakan satu hal.
“Apakah masalah ini bisa selesai lewat telepon lima menit atau cukup diskusi via whatsapp?”
Kalau jawabannya iya, mungkin rapat satu jam memang tidak diperlukan.
22. Tanamkan Kebiasaan Mematikan Alat Listrik Sebelum Pulang
Saya mau tanya. Siapakah di antara Anda ketika akan pulang kerja mengingatkan rekan kerja untuk mematikan laptop, penghancur kertas, AC, coffee maker dan printer?
Siapa pula ketika pulang kerja melewati area kerja yang telah digunakan sebelumnya untuk bekerja, dengan maksud untuk mematikan alat kerja yang tidak digunakan masih menyala?
Tanamkan budaya sederhana ini di seluruh lini perusahaan. Bukan saja emisi CO2 yang dapat dikendalikan, tetapi aspek K3 pun akan semakin baik kondisinya.
23. Rayakan Perbaikan Kecil
Salah satu alasan program penghematan sering berhenti di tengah jalan adalah karena hasilnya dianggap terlalu kecil. Padahal justru perbaikan kecil itulah yang perlu diapresiasi.
Misalnya:
- berhasil mengurangi reject 1%,
- menemukan kebocoran udara tekan,
- menghemat konsumsi steam,
- memperpendek waktu startup.
Tidak perlu hadiah besar. Kadang ucapan terima kasih dari manajemen saat briefing pagi atau meeting pagi sudah cukup membuat karyawan merasa usahanya dihargai.
Budaya seperti ini akan membuat orang lebih semangat mencari ide berikutnya.
24. Ukur, Jangan Hanya Mengira
Kalau ingin mengurangi emisi CO₂, mulailah dengan mengukur hal-hal yang paling mudah, misalnya konsumsi listrik per ton produk, konsumsi steam per ton produk, penggunaan solar forklift, jumlah produk reject, konsumsi air proses.
Kalau angkanya sudah terlihat, biasanya ide perbaikannya akan muncul dengan sendirinya.
Ada pepatah yang sangat terkenal di dunia manajemen:
“You can’t improve what you don’t measure.”
Data tidak harus rumit, yang penting konsisten dicatat..
25. Mulai Hari Ini, Jangan Menunggu Program Besar
Menunda pekerjaan memang menjadi penyakit umum di perusahaan. Masalahnya, kata menunda sering berubah menjadi bertahun-tahun.
Padahal akan selalu ada satu hal kecil yang bisa dilakukan hari ini, tanpa drama. Misalnya menggunakan kertas HVS ada kedua disisinya.
Kelihatannya sederhana.
Tetapi kalau dilakukan oleh 100 orang di perusahaan yang sama, setiap hari, selama bertahun-tahun, hasilnya akan jauh dari kata sederhana.
Di situlah kekuatan kebiasaan bekerja.
Perubahan Besar Selalu Berawal dari Langkah Kecil
Banyak orang menganggap pengurangan emisi CO₂ identik dengan proyek besar dan investasi mahal. Memang benar, teknologi seperti panel surya, boiler berefisiensi tinggi, atau elektrifikasi kendaraan dapat memberikan dampak yang signifikan.
Namun, teknologi hanyalah salah satu bagian dari solusi.
Bagian yang sering terlupakan adalah perilaku manusia.
Pabrik yang dipenuhi mesin modern tetap akan boros energi jika operator membiarkan mesin idle, steam bocor, atau produk reject terus terjadi. Sebaliknya, pabrik dengan fasilitas yang biasa saja bisa menjadi jauh lebih efisien ketika setiap orang memiliki kebiasaan memperbaiki hal-hal kecil setiap hari.
Itulah mengapa prinsip 1% lebih baik setiap hari sangat relevan untuk dunia industri. Tidak perlu menunggu semua orang berubah sekaligus.
Cukup mulai dari satu kebiasaan kecil. Besok tambah satu lagi. Minggu depan tambah satu lagi. Lama-kelamaan, kebiasaan itu akan membentuk budaya perusahaan.
Dan ketika budaya sudah berubah, pengurangan emisi CO₂ bukan lagi menjadi target tahunan, tetapi menjadi bagian dari cara bekerja setiap hari.
Kesimpulan
Perusahaan yang sukses dalam program keberlanjutan biasanya bukan yang paling banyak memiliki proyek besar, melainkan yang paling konsisten melakukan perbaikan kecil.
Mengurangi emisi CO₂ tidak harus dimulai dari investasi miliaran rupiah. Memperbaiki satu steam trap, mengurangi reject 1%, mematikan mesin yang tidak digunakan, atau memperpendek jalur forklift mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan terus-menerus oleh seluruh tim, dampaknya akan terasa pada konsumsi energi, biaya operasional, dan jejak karbon perusahaan.
Seperti pesan James Clear dalam Atomic Habits, kita tidak berubah karena satu keputusan besar, tetapi karena kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Mungkin perusahaan Anda tidak bisa mengurangi emisi 30% dalam satu bulan. Tetapi mengurangi 1% hari ini adalah sesuatu yang sangat mungkin dilakukan. Dan sering kali, perubahan besar memang dimulai dari sana.



Leave a Reply
Anda harus masuk untuk berkomentar.