10 Strategi Mengurangi Biaya Produksi Saat Harga Minyak Dunia Naik, Tanpa Mengorbankan Kualitas Produk

mengurangi biaya produksi

Harga minyak dunia bisa naik karena perang, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga kebijakan negara produsen. Apa pun penyebabnya, perusahaan hampir selalu merasakan dampaknya.

Lalu, bagaimana cara mengurangi biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas produk? Simak strategi pada postingan berikut ini yang bisa langsung diterapkan.

Harga Minyak Naik, Kenapa Hampir Semua Industri Ikut Terdampak?

Beberapa waktu terakhir, dunia kembali dihadapkan pada ketidakpastian akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia. Kondisi seperti ini memang sering menjadi perhatian karena pasar energi sangat sensitif terhadap isu geopolitik.

Namun sebenarnya, kita tidak perlu menunggu perang untuk menghadapi kenaikan biaya produksi. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lonjakan harga energi juga bisa dipicu oleh banyak faktor lain, seperti gangguan distribusi global, berkurangnya kapasitas produksi, fluktuasi nilai tukar, bencana alam, hingga meningkatnya permintaan dunia setelah ekonomi kembali tumbuh.

Artinya, kenaikan biaya produksi bukanlah peristiwa yang langka. Hampir setiap perusahaan akan mengalaminya, hanya waktu dan penyebabnya saja yang berbeda.

Yang sering terjadi adalah harga minyak naik beberapa persen, tetapi efek berantainya jauh lebih besar. Harga bahan baku ikut naik, biaya pengiriman meningkat, tarif energi bertambah, bahkan harga kemasan pun ikut terkerek naik karena banyak material berasal dari industri petrokimia.

Kalau diperhatikan lebih jauh, cukup banyak komponen biaya produksi yang memiliki keterkaitan dengan minyak bumi, diantaranya adalah:

  • Plastik PE, PP, PET, HDPE, dan berbagai jenis resin lainnya.
  • Drum plastik, jerigen, botol, hingga IBC tank.
  • Solar atau fuel oil untuk boiler.
  • Gas alam sebagai bahan bakar steam.
  • Pelumas atau lubrication oil mesin.
  • Berbagai bahan kimia turunan minyak bumi seperti solvent, resin, coating, adhesive, dan surfaktan.
  • Biaya transportasi bahan baku maupun distribusi produk jadi.

Berdasarkan data yang saya punya, pada periode ini kenaikan harga solar industri mencapai lebih dari 200%. Sementara untuk kemasan berbahan dasar HDPE, seperti jerry can naik lebih dari 150%!

Akibatnya, margin keuntungan perusahaan bisa tergerus jika tidak ada langkah antisipasi. Apalagi, tidak seluruh konsumen tidak dapat menerima kenaikan harga setinggi itu.

Kalau tetap dipaksakan, bisa jadi konsumen yang selama ini loyal pun akan membeli dari perusahaan lain, bukan dari kita.

Kabar baiknya, masih banyak peluang efisiensi yang bisa kita lakukan. Bahkan beberapa di antaranya tidak memerlukan investasi besar, melainkan perubahan cara kerja dan pengelolaan operasional.

Yang terpenting, kita harus bersikap open minded dan berpikir out of the box.

Ide akan selalu ada.

Nah, berikut ini adalah beberapa strategi yang layak dipertimbangkan dalam menghadapi kenaikan harga ini.

1. Mulailah dari Audit Biaya Produksi

Saat biaya mulai naik, umumnya reaksi pertama yang sering muncul adalah meminta setiap departemen melakukan penghematan. Pendekatan seperti ini memang terlihat cepat, tetapi belum tentu tepat sasaran.

Sebelum memutuskan apa yang harus dikurangi, pahami dulu biaya terbesar berasal dari mana. Karena masalahnya, struktur biaya di setiap pabrik bisa sangat berbeda.

Pada industri kimia, biaya bahan baku bisa mencapai lebih dari 50% dari total biaya produksi. Sebaliknya, pada industri makanan tertentu, biaya energi untuk proses pemanasan dan pendinginan bisa menjadi komponen yang sangat dominan.

Karena itu, melakukan pemetaan sederhana merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Secara sederhana, pemetaan bisa dibuat seperti table di bawah ini.

Item BiayaPersentase KenaikanDampak Terhadap Biaya Produksi
Bahan bakuxx%yy%
Kemasanxx%yy%
Steamxx%yy%
Listrikxx%yy%
Transportasixx%yy%
Bahan kimia penolongxx%yy%

Dari tabel tersebut di atas, akan terlihat komponen biaya mana yang paling layak menjadi prioritas. Tepat sasaran, fokus hanya pada hal yang berdampak tinggi atau luas.

Sering kali perusahaan terlalu fokus menghemat ATK atau biaya perjalanan dinas, padahal penghematan terbesar justru bisa diperoleh dari efisiensi steam, listrik, atau pengurangan kehilangan bahan baku.

2. Evaluasi Sistem Steam, Karena Di Sini Sering Tersembunyi Biaya yang Tidak Terlihat

Kalau di pabrik Anda menggunakan boiler, kemungkinan besar steam merupakan salah satu konsumen energi terbesar. Angka kontribusinya terhadap biaya variable produksi bisa mencapai 20-30%.

Yang menarik, banyak perusahaan menganggap konsumsi steam sebagai sesuatu yang “normal”, padahal masih banyak peluang penghematan yang belum dimanfaatkan.

Caranya, lakukan audit sederhana dengan menggunakan pertanyaan berikut ini untuk memulainya:

  • Apakah ada kebocoran steam pada jaringan pipa?
  • Apakah steam trap masih bekerja dengan baik?
  • Apakah seluruh pipa sudah memiliki insulasi yang memadai?
  • Apakah tekanan steam sudah sesuai kebutuhan proses?
  • Apakah boiler bekerja pada efisiensi terbaiknya?
  • Apakah kualitas steam saturated, superheated atau mungkin steam basah?

Kebocoran steam yang terlihat kecil ternyata bisa menyebabkan kehilangan energi yang cukup besar jika dibiarkan selama berbulan-bulan.

Begitu pula dengan steam trap yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Steam dapat terus terbuang tanpa disadari sehingga konsumsi bahan bakar boiler meningkat.

Jika di perusahaan Anda belum pernah melakukan audit energi, sekaranglah saatnya yang tepat untuk memulainya. Lakukan inspeksi sekarang dengan menggunakan pertanyaan sederhana di atas.

3. Tinjau Kembali Spesifikasi Kemasan

Saat harga minyak naik, salah satu komponen biaya produksi yang biasanya ikut mengalami kenaikan adalah kemasan berbahan plastik. Hal ini cukup masuk akal karena sebagian besar resin plastik berasal dari minyak bumi.

Namun, ketika ini terjadi, maka menaikkan harga jual bukan solusi. Malahan, yang terjadi kita akan kehilangan konsumen.

Lalu, apa langkah pertama yang harus kita lakukan?

Lihat kembali spesifikasi kemasan yang digunakan selama ini dan ajukan pertanyaan berikut sebagai bahan evaluasi.

  • Apakah ketebalan plastik masih sesuai kebutuhan atau terlalu berlebihan?
  • Apakah ukuran kemasan sudah optimal?
  • Apakah desain kemasan bisa dibuat lebih ringan tanpa mengurangi keamanan produk?
  • Apakah memungkinkan menggunakan kemasan yang dapat digunakan kembali (returnable packaging)?
  • Apakah ada alternatif material yang tetap memenuhi standar kualitas?

Misalnya, perusahaan yang mengirim produk dalam jumlah besar dapat mengevaluasi penggunaan returnable IBC tank dibandingkan kemasan sekali pakai, apabila sesuai dengan karakteristik produk dan sistem distribusinya.

Atau, misalnya kita ubah dari menggunakan IBC tank ke ISO tank container. Pada saat produk dikirim, produk tinggal dicurahkan menggunakan gravitasi atau pompa dari ISO tank container ke dalam IBC tank. Pada kondisi tertentu, pendekatan ini dapat membantu menekan biaya kemasan sekaligus mengurangi limbah.

Evaluasi seperti ini tentu tidak boleh hanya mempertimbangkan harga. Aspek keselamatan, kompatibilitas material, kualitas produk, dan kemudahan penanganan juga harus tetap menjadi prioritas.

Karena pada akhirnya, kemasan yang lebih murah tetapi meningkatkan risiko kerusakan produk justru akan menambah biaya di kemudian hari.

4. Bangun Hubungan yang Lebih Strategis dengan Supplier

Ketika harga bahan baku terus naik, banyak dari kita langsung menghubungi beberapa supplier untuk meminta penawaran harga yang lebih rendah. Cara ini memang tidak salah, tetapi sering kali hasilnya tidak terlalu signifikan jika hanya berfokus pada harga per kilogram atau per liter.

Hubungan yang baik dengan supplier justru bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar.

Misalnya, Anda bisa berdiskusi mengenai:

  • Jadwal pembelian yang lebih fleksibel.
  • Kontrak harga untuk periode tertentu.
  • Alternatif spesifikasi bahan baku yang tetap memenuhi kebutuhan proses.
  • Pengiriman dalam jumlah yang lebih optimal untuk mengurangi biaya logistik.
  • Konsinyasi atau pengaturan stok di lokasi pelanggan (jika memungkinkan).

Pendekatan seperti ini lebih menguntungkan dibandingkan negosiasi yang hanya berorientasi pada penurunan harga.

Selain itu, jangan bergantung pada satu pemasok saja untuk bahan baku yang bersifat kritis. Memiliki supplier alternatif dapat mengurangi risiko jika terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga yang tidak terduga.

Bagi tim purchasing, kondisi seperti ini juga menjadi momen untuk memperkuat komunikasi dengan tim produksi, PPIC, gudang, dan quality control. Keputusan membeli bahan baku tidak lagi hanya soal harga, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan stok, kualitas, hingga dampaknya terhadap proses produksi.

Baca juga: Istilah dalam Purchasing untuk memahami berbagai istilah yang sering digunakan dalam proses pengadaan material.

5. Kurangi Waste Produksi

Kadang kita baru tersadarkan tentang ketidakefisienan pada proses produksi ketika harga bahan baku naik. Saat harga bahan baku masih stabil, kehilangan bahan beberapa kilogram mungkin belum terlalu terasa. Tapi, ketika harga bahan baku naik 20–30%, nilai kerugian akibat waste produksi ikut meningkat dengan persentase yang sama.

BACA JUGA  Cara Membuat Spesifikasi Pressure Safety Valve Yang Tepat

Karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan audit kembali berbagai sumber pemborosan di area produksi. Lakukan segera evaluasi pada pos-pos pemborosan seperti:

  • Produk reject.
  • Produk off-spec.
  • Tumpahan bahan baku.
  • Sisa bahan saat pergantian produk.
  • Scrap kemasan.
  • Kehilangan akibat kebocoran pipa atau valve.
  • Overfilling pada proses pengemasan.

Kadang-kadang kita terlalu fokus mengejar target produksi, tetapi lupa menghitung berapa banyak material yang sebenarnya hilang setiap hari.

Misalnya, kehilangan bahan baku sebesar 20 kg per hari mungkin terlihat kecil. Namun jika harga bahan tersebut mencapai Rp50.000 per kilogram, maka kerugiannya mencapai Rp1 juta per hari atau sekitar Rp365 juta dalam setahun.

Angka tersebut belum termasuk biaya pengolahan limbah, tenaga kerja tambahan, maupun waktu produksi yang hilang.

Maka, mulailah dengan mencatat sumber waste terbesar, kemudian lakukan perbaikan secara bertahap. Tidak semua masalah harus selesai sekaligus. Yang terpenting adalah ada perbaikan yang konsisten.

6. Tingkatkan OEE agar Biaya Produksi per Ton Produk Semakin Rendah

Tips berikutnya adalah melakukan evaluasi terhadap kapasitas mesin yang ada. Pastikan apakah kapasitasnya telah dimanfaatkan secara optimal atau belum.

Nah, di sinilah pentingnya memperhatikan Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE menggambarkan seberapa efektif sebuah mesin digunakan dibandingkan dengan kapasitas idealnya.

OEE dipengaruhi oleh tiga faktor utama:

  • Availability (ketersediaan mesin)
  • Performance (kecepatan produksi)
  • Quality (hasil produksi yang memenuhi spesifikasi)

Jika salah satu dari ketiga faktor tersebut rendah, biaya produksi per satuan produk akan ikut meningkat.

Sebagai contoh, mesin yang sering berhenti karena gangguan kecil memang masih bisa menghasilkan produk. Namun setiap waktu berhenti berarti konsumsi energi tetap berjalan, operator tetap bekerja, target produksi tidak tercapai, dan tentu saja biaya per ton produk menjadi lebih tinggi.

Begitu juga jika tingkat reject meningkat. Bahan baku, listrik, steam, dan waktu produksi sudah terpakai, tetapi produk tidak dapat dijual.

7. Atur Jadwal Produksi dengan Lebih Efisien

Ada satu sumber pemborosan lain yang sering luput dari perhatian, yaitu terlalu sering melakukan start-up, shutdown, atau changeover.

Setiap kali mesin dihentikan lalu dijalankan kembali, akan muncul tambahan biaya dari:

  • konsumsi steam saat pemanasan awal,
  • penggunaan listrik yang lebih tinggi,
  • kehilangan bahan baku saat flushing atau venting,
  • waktu operator dan overtime,
  • produk awal yang belum memenuhi spesifikasi.

Semakin sering pergantian produk dilakukan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung perusahaan. Bukan berarti variasi produk harus dikurangi, tetapi jadwal produksi perlu diatur dengan lebih cermat, untuk menghindari frekuensi start-up dan shut down.

Sebagai contoh, produk dengan karakteristik yang mirip dapat dijadwalkan secara berurutan sehingga kebutuhan pencucian peralatan atau flushing menjadi lebih sedikit.

Untuk produk bahan kimia cair misalnya, pembuatan lot number atau batch number dalam jumlah yang cukup sekaligus akan mengurangi biaya analisa produk.

Produksi dalam batch yang lebih besar juga sering kali lebih efisien dibandingkan menjalankan mesin berkali-kali untuk batch kecil, selama tetap mempertimbangkan kapasitas penyimpanan, umur simpan produk, dan permintaan pelanggan.

Koordinasi yang baik antara PPIC, produksi, gudang, dan tim penjualan menjadi kunci agar jadwal produksi tidak sering berubah secara mendadak.

Meskipun pada kenyataannya, perubahan jadwal memang kadang tidak bisa dihindari. Namun jika terlalu sering terjadi, biaya tersembunyi yang muncul bisa jauh lebih besar daripada yang terlihat di laporan harian.

8. Cari Alternatif Bahan Baku, tetapi Jangan Mengorbankan Kualitas

Ketika harga bahan baku terus meningkat, mencari alternatif supplier atau material pengganti menjadi salah satu langkah yang paling sering dipertimbangkan. Namun, keputusan ini tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan harga.

Pastikan faktor kualitas produk menjadi prioritas utamanya.

Bahan baku yang lebih murah belum tentu menghasilkan kualitas produk yang sama. Bahkan dalam beberapa kasus, selisih harga yang terlihat menguntungkan di awal justru berakhir menjadi biaya tambahan karena meningkatnya produk reject, keluhan pelanggan, atau penurunan umur simpan produk.

Selalu jadikan spesifikasi bahan baku yang telah terbukti menghasilkan produk dengan kualitas terbaik tetap dipertahankan. Pastikan COA bahan baku dengan lot number yang diterima, sudah memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

Apabila tidak ada pilihan lain, sebelum memutuskan mengganti bahan baku, lakukan evaluasi secara menyeluruh, dengan memastikan:

  • Spesifikasi teknisnya benar-benar setara
  • Telah lulus hasil uji coba di skala laboratorium atau pilot
  • Kualitas yang konsisten
  • Ketersediaan pasokannya dalam jangka panjang aman
  • Perubahan bahan baku tidak memerlukan penyesuaian kondisi proses produksi

Untuk industri tertentu, seperti makanan, farmasi, atau bahan kimia tertentu, perubahan bahan baku juga harus memperhatikan aspek legal dan persyaratan pelanggan.

9. Jadikan Continuous Improvement sebagai Budaya, Bukan Program Musiman

Bagi kita yang telah menerapkan sistem perbaikan yang konsisten, melalui program Kaizen misalnya, kenaikan bahan baku seperti sekarang ini, tentu tidak membuat kita kaget. Karena kita telah terbiasa melakukan perbaikan setiap hari secara konsisten.

Budaya seperti inilah yang membuat kita bisa bertahan. Ingat, budaya continuous improvement tidak selalu identik dengan proyek besar atau investasi mahal.

Cukup perbaikan kecil. Tapi dilakukan konsisten, setiap hari, bersama-sama. Tapi efeknya akan bersifat compounding.

Prinsipnya, efisiensi yang berkelanjutan selalu lebih kuat dibandingkan penghematan besar yang hanya dilakukan sesekali.

10. Pantau Biaya Produksi Secara Berkala, Jangan Menunggu Laporan Bulanan

Data production log atau production record harian, yang berisikan informasi jumlah produk yang dihasilkan serta konsumsi bahan yang digunakan, merupakan informasi penting untuk memonitor biaya produksi setiap harinya.

Gunakan angka pada budget berupa KPI atau unit konsumsi bahan sebagai tolak ukur, apakah proses produksi berjalan efisien atau tidak.

Namun, bila monitoring harian ini tidak dilakukan, maka bisa jadi kita baru menyadari biaya produksi meningkat setelah laporan keuangan bulanan selesai dibuat.

Ini tentu saja terlambat.

Dengan memantau indikator tersebut secara rutin, kita dapat mendeteksi perubahan sejak dini dan segera mengambil tindakan sebelum berdampak lebih besar terhadap biaya produksi.

Kenaikan Harga Minyak Memang Tidak Bisa Dikendalikan, tetapi Respons Perusahaan Bisa

Kita tidak akan mampu mengendalikan harga minyak dunia, nilai tukar mata uang, atau situasi geopolitik internasional. Namun, kita masih tetap memiliki kendali atas cara kita mengelola operasional perusahaan.

Kita yang mampu bertahan biasanya bukan yang memiliki biaya produksi paling rendah sejak awal, melainkan yang paling cepat beradaptasi ketika kondisi berubah.

Kita mulai dari langkah-langkah yang paling realistis. Audit biaya produksi, tingkatkan efisiensi steam dan energi, evaluasi kemasan, kurangi pemborosan, optimalkan penggunaan mesin, bangun kerja sama yang lebih baik dengan supplier, dan biasakan budaya perbaikan berkelanjutan.

Bila konsisten, penghematan dari berbagai perbaikan kecil tersebut dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan satu proyek efisiensi berskala besar.

Kesimpulan

Lonjakan harga minyak dunia mungkin menjadi pemicu, tetapi tantangan serupa dapat muncul karena banyak faktor lain, mulai dari kenaikan harga gas alam, gangguan rantai pasok, hingga melemahnya nilai tukar. Maka dari itu, kita perlu membangun sistem yang lebih tangguh, bukan hanya bereaksi terhadap satu jenis krisis.

Strategi yang dibahas dalam postingan ini menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan pemangkasan anggaran atau investasi besar. Justru, banyak peluang perbaikan berasal dari hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti mengurangi kebocoran steam, menekan pemborosan, mengoptimalkan jadwal produksi, atau memperkuat kolaborasi dengan supplier.

Pada akhirnya, kita yang mampu bertahan bukanlah yang paling beruntung menghadapi kondisi pasar, tetapi yang paling disiplin dalam mengelola proses bisnisnya. Dan ketika efisiensi sudah menjadi budaya kerja, kita akan lebih siap menghadapi apa pun penyebab kenaikan biaya produksi di masa depan.

Be the first to comment

Leave a Reply