7 Cara Menurunkan COD Air Limbah

cara menurunkan cod air limbah

Keseriusan pemerintah dalam memperbaiki kualitas air limbah atau air buangan industri terus meningkat.

Jika kita simak berita akhir-akhir ini, telah banyak pabrik yang ditutup saluran outlet air limbahnya karena alasan pelanggaran kualitas air limbah yang tidak memenuhi persyaratan atau perundangan.

Bahkah, ada pula pabrik yang sampai ditutup izin operasionalnya karena terus membandel, dengan tetap membuang air limbah yang melebihi ambang batas.

Dari sisi kualitas, menurut Permenlh no.5 tahun 2014, ada 33 parameter air limbah yang harus dipenuhi oleh perusahaan sebelum membuang air limbahnya ke badan air.

Salah satu parameter diantaranya adalah COD atau Chemical Oxygen Demand. Menurut, Permen LH no 5 tahun 2014, bahwa ambang batas COD untuk industri golongan-1 adalah 100 ppm.

Ambang batas COD sebesar 100 ppm ini bagi sebagian perushaan, masih merupakan angka yang cukup sulit untuk dipenuhi.

Oleh karena itulah usaha mencari cara menurunkan COD air limbah merupakan hal penting dalam upaya menjaga agar pabrik bisa beroperasi secara normal tanpa khawatir ditindak oleh aparat.

Dasar Teori COD (Chemical Oxygen Demand)

Sebelum membahas bagaimana cara menurunkan COD air limbah, kita akan review dahulu secara teori apa yang dimaksud dengan COD atau chemical oxygen demand itu.

Menurut Environmental Microbiology Edisi ke 2 terbitan tahun 2009, pengertian COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi seluruh senyawa organik menjadi karbon dioksida dan air.

Dengan kata lain, COD adalah sebuah metode untuk memperkirakan berapa banyak oksigen yang akan berkurang dari badan air penerima sebagai hasil dari aktivitas bakteri.

Pengukuran nilai COD selalu dikaitkan dengan pengukuran BOD atau Biological Oxygen Demand.

Cara Mengukur COD

Dalam tes atau pemerikasaan COD digunakan bahan kimia oksidator kuat seperti pottasium dichromate atau pottasium permanganate, untuk mengoksidasi bahan kimia organik dalam sampel air limbah pada kondisi pH asam.

Oksidator yang ditambahkan berlebih, untuk memastikan bahwa semua bahan kimia organik teroksidasi. Jika proses oksidasi sudah sempurna, kemudian sisa oksidator ditentukan dengan cara titrasi. Maka setelah itu, angka COD dapat dihitung.

Nilai COD biasanya dinyatakan dalam satuan ppm atau mg/L.

Pemeriksaan COD dengan metode di atas memerlukan waktu 2-3 jam untuk satu sampel.

Selain itu, pengukuran COD dan pengukuran BOD (biological oxygen demand) dilakukan bersamaan, untuk menentukan kandungan bahan kimia organik yang bersifat non-biodegradable dalam sampel air limbah.

Faktor Yang Mempengaruhi COD

Secara umum, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kadar COD air limbah yang terukur, maka semakin tinggi pula kandungan bahan kimia organik yang dapat dioksidasi di dalamnya.

Keberadaan senyawa kimia organik yang dapat larut di air seperti etanol dan zat anti beku (seperti metanol) berkontribusi menaikkan angka COD di dalam air limbah.

Selain itu, air limbah yang terbukti mengandung TSS atau total suspended solid yang tinggi juga akan mengandung COD yang tinggi. TSS yang tinggi terjadi karena adanya sludge atau lumpur yang tersuspensi.

Maka untuk mengendalikannya, pastikan bahwa penggunaan bahan kimia organik pada proses produksi harus ditingkatkan efisiensinya. Artinya, dari waktu ke waktu kita fokuskan upaya yang dilakukan agar jumlah bahan kimia organik yang dibuang bersama air limbah dapat diturunkan.

Jika anda memiliki masalah kandungan COD yang tinggi pada air limbah yang dihasilkan, maka lakukan pengecekan pada setiap proses yang menghasilkan air limbah, terutama yang disinyalir mengandung bahan kimia organik di dalamnya.

Dari hasil analisa, anda dapat menentukan proses mana yang berkontribusi besar pada tingginya kandungan COD dalam air limbah.

Setelah itu, lakukan perbaikan pada proses yang terjadi agar jumlah bahan kimia yang dikeluarkan dapat dikurangi sampai ambang batas COD terpenuhi.

Teknik atau Cara Menurunkan COD Air Limbah

Setelah mengetahui dasar teori COD, cara menganalisa COD serta faktor-faktor yang berpengaruh pada tingginya angka COD dalam air limbah, maka sekarang saatnya kita belajar bagaimana angka COD ini bisa diturunkan serendah-rendahnya.

Tidak semua cara dapat dipraktekan pada kasus anda. Karena setiap cara atau teknik yang diterapkan sangat tergantung dari karakteristik air limbah masing-masing.

Sekarang, silahkan simak cara menurunkan COD dalam air limbah berikut ini:

  1. Kurangi atau hilangkan dari sumbernya. Teknik atau cara ini dapat diterapkan pada semua proses. Ini adalah sebuah proses pencegahan. Dan cara ini adalah yang terbaik karena sumber kontaminasi yang menyebabkan angka COD yang tinggi dihentikan dari sumbernya. Memang cara ini memerlukan proses identifikasi awal dari setiap proses yang menghasilkan air limbah. Proses-proses yang terbukti menghasilkan air limbah dengan kandungan COD yang tinggi dijadikan prioritas untuk diperbaiki atau bahkan dilakukan rekayasa ulang agar prosesnya bisa ramah lingkungan.
  2. Koagulasi atau Coagulation. Cara koagulasi sering juga disebut dengan Precipitation process. Prinsipnya adalah dengan menambahkan bahan kimia koagulan untuk mengikat partikel lumpur menjadi ukuran yang lebih besar. Setelah itu, lumpur dipisahkan ke dalam tanki sedimentasi. Bahan kimia koagulan yang dapat anda gunakan antara lain alum dan FeCl3. Efisiensi proses ini bisa mencapai 65% mengurangi COD air limbah.
  3. Proses Mikrobiologi. Air limbah yang mengandung bahan kimia organik yang biodegradable cocok diolah dengan menggunakan teknik yang satu ini. Teknik ini terdiri dari 2 tahapan, yaitu aeration dan anaerobic. Pada tahap aeration, bahan organik diuraikan oleh bakteri hetetotrophic dengan bantuan oksigen. Selanjutnya, bakteri anaerobic bekerja dengan jumlah oksigen yang kecil untuk menguraikan bahan kimia organik sisanya.
  4. Penambahan bahan kimia oksidator. Hidrogen peroksida, klorin dan ozon adalah oksidator yang biasa digunakan untuk menurunkan COD air limbah. Teknik ini cocok untuk menurunkan COD pada air limbah yang mengandung bahan kimia organik yang non-biodegradable. Hal yang perlu diperhatikan adalah dosis oksidator yang digunakan. Karena residuenya dapat membahayakan organisme lain di badan air. Jika dilihat dari tingkat bahaya residu yang dihasilkan, maka pilihan terbaik ada pada hidrogen peroksida.
  5. Reaksi Fenton. Reaksi reagent fenton (FeSO4.7H2O) dengan hidrogen peroksida akan menghasilkan radikal bebas, yang akan menurunkan angka COD pada air limbah, yaitu dengan cara menguraikan bahan kimia organik di dalamnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi COD reduction dengan teknik ini adalah pH, dosis hidrogen peroksida, dosis Fenton dan waktu reaksi. Menurut salah satu studi – yang dirilis oleh sciencedirect.com – teknik ini mampu mengurangi kandungan COD air limbah sampai 95%.
  6. Teknik Filtrasi dan Adsorpsi dengan Karbon Aktif. Teknik lain yang dapat diterapkan adalah menggunakan karbon aktif atau activated carbon. Aktif karbon akan menyaring dan menyerap bau, bahan kimia organik, klorin dan mengurangi jumlah bahan kimia lainnya.
  7. Advanced Oxidation Processes (AOPs). AOPs adalah serangkaian proses untuk pengolahan air limbah, yaitu untuk menghilangkan bahan kimia organik – dan beberapa jenis polutan anorganik – melalui reaksi oksidasi dengan radikal bebas OH- (hydroxyl radical). Proses pembentuka radikal bebas di dalam AOPs dilakukan dengan penambahan oksidator (H2O2 atau O3), radiasi UV dan reagent Fenton.

2 Komentar

    • lukman143 PenulisBalas

      Ya bisa. Biasanya prosesnya disebut dengan chlorine bleach. Yang paling umum digunakan adalah sodium hipoklorit atau NaOCl, dengan kadar 5.25%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *