UN Number adalah nomor identifikasi internasional yang terdiri dari empat digit dan ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengidentifikasi bahan berbahaya selama penyimpanan, penanganan, dan transportasi.
Nomor ini digunakan secara global pada Safety Data Sheet (SDS), label bahan kimia, kemasan, dokumen pengiriman, hingga kendaraan pengangkut agar setiap bahan berbahaya dapat dikenali dengan cepat dan ditangani secara aman.
Jika Anda bekerja di pabrik kimia, perusahaan logistik, gudang B3, laboratorium, maupun bagian HSE, memahami UN Number bukan hanya sekadar memenuhi persyaratan regulasi. Kesalahan menentukan UN Number dapat menyebabkan kesalahan pelabelan, penggunaan kemasan yang tidak sesuai, hingga penolakan pengiriman oleh perusahaan transportasi.
Pada postingan ini kita akan membahas secara lengkap mengenai pengertian UN Number, fungsi, cara mencari, contoh penggunaannya di industri, serta daftar UN Number bahan kimia yang paling sering digunakan.
Apa Itu UN Number?
UN Number adalah empat digit angka yang ditetapkan oleh Komite Ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Committee of Experts on the Transport of Dangerous Goods) sebagai identitas setiap bahan berbahaya (dangerous goods) yang diperdagangkan dan diangkut di seluruh dunia.
Nomor ini bersifat internasional, sehingga bahan kimia yang dikirim dari negara kita Indonesia ke Jepang, Amerika Serikat, Eropa, atau negara lainnya akan tetap menggunakan UN Number yang sama.
Tidak akan ada perbedaan UN Number yang berbeda.
Misalnya:
| Nama Bahan Kimia | UN Number |
|---|---|
| Aseton | 1090 |
| Etanol | 1170 |
| Metanol | 1230 |
| Asam Sulfat | 1830 |
| Asam Klorida | 1789 |
| Natrium Hidroksida | 1823 |
UN Number memudahkan petugas logistik, operator gudang, pemadam kebakaran, maupun tim tanggap darurat mengenali jenis bahaya suatu bahan kimia B3 tanpa harus memahami nama dagangnya.
Sebagai contoh, produk yang dijual dengan berbagai merek dagang tetap memiliki UN Number yang sama apabila komposisi dan klasifikasi bahayanya sama.
Apakah Semua Bahan Kimia Memiliki UN Number?
Jawabannya adalah tidak.
UN Number hanya diberikan kepada bahan atau produk yang termasuk kategori Dangerous Goods atau bahan berbahaya menurut regulasi transportasi internasional.
Sebaliknya, banyak bahan kimia yang tidak tergolong berbahaya dalam transportasi sehingga tidak memiliki UN Number.
Sebagai contoh:
- Air murni tidak memiliki UN Number.
- Larutan gula tidak memiliki UN Number.
- Sebagian besar bahan pangan tidak memiliki UN Number.
Sementara itu, bahan-bahan seperti asam kuat, basa kuat, pelarut organik yang mudah terbakar, gas bertekanan, bahan oksidator, racun, dan bahan korosif umumnya memiliki UN Number.
Mengapa UN Number Sangat Penting?
UN Number menjadi sesuatu yang wajib diketahui oleh produsen maupun pengguna bahan kimia B3.
Angka identifikasi ini digunakan dalam pembuatan Safety Data Sheet (SDS), label bahan kimia, pemilihan jenis kemasan yang sesuai, hingga proses transportasi sampai penyimpanannya.
Jika Anda melakukan pembelian bahan kimia B3, maka informasi mengenai UN Number biasanya dapat ditemukan pada dokumen berikut ini:
- Safety Data Sheet (SDS) atau MSDS
- Label kemasan
- Dokumen pengiriman
- Kemasan luar (outer packaging) seperti IBC tank
- ISO Tank Container
- Placard kendaraan pengangkut
Apabila bahan kimia dikirim menggunakan ISO Tank Container, maka UN Number umumnya dipasang dengan jelas pada bagian depan, samping kira, samping kanan dan belakang tangki sehingga mudah dikenali oleh petugas di lapangan.
Keberadaan UN Number sangat membantu petugas apabila terjadi keadaan darurat seperti kebakaran, kebocoran, atau kecelakaan selama transportasi. Tim tanggap darurat dapat segera mengetahui jenis bahan yang terlibat sehingga tindakan penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sesuai dengan prosedur.
Fungsi UN Number di Industri
Di lingkungan industri, UN Number tidak hanya digunakan sebagai identitas bahan kimia. Nomor ini memiliki berbagai fungsi penting yang berkaitan dengan keselamatan, kepatuhan regulasi, dan kelancaran operasional.
1. Identifikasi Bahan Berbahaya
Satu nomor dapat langsung menunjukkan jenis bahan yang sedang ditangani.
Sebagai contoh, ketika operator melihat UN 1830, mereka dapat segera mengetahui bahwa bahan tersebut adalah asam sulfat tanpa harus membaca keseluruhan label.
Hal ini sangat membantu ketika menangani ratusan hingga ribuan jenis bahan kimia pada gudang yang sama.
2. Penyusunan Safety Data Sheet (SDS)
UN Number merupakan informasi wajib yang dicantumkan pada Section 14 – Transport Information dalam Safety Data Sheet atau LDK.
Tanpa informasi ini, dokumen SDS menjadi tidak lengkap untuk keperluan pengiriman bahan kimia.
3. Penentuan Kemasan
Tidak semua jenis kemasan boleh digunakan untuk semua bahan kimia. Hanya jenis kemasan yang tertentu saja yang dapat digunakan.
UN Number akan mengacu pada ketentuan mengenai:
- jenis drum
- jerigen
- intermediate bulk container (IBC)
- tangki
- kemasan kombinasi
yang diizinkan berdasarkan regulasi pengangkutan barang berbahaya.
4. Penentuan Label dan Placard
UN Number juga digunakan pada:
- label kemasan
- placard kendaraan
- kontainer
- ISO tank container
- gudang penyimpanan
Dengan demikian, setiap orang yang menangani bahan tersebut dapat langsung mengetahui potensi jenis bahan kimia serta bahayanya.
5. Mempermudah Proses Ekspor dan Impor
Dalam perdagangan internasional, perusahaan pelayaran maupun maskapai penerbangan akan selalu meminta informasi mengenai Proper Shipping Name, UN Number, Hazard Class dan Packing Group kepada pengekspor atau produsen bahan berbahaya.
Tanpa data tersebut, pengiriman dapat ditolak atau mengalami penundaan.
6. Mendukung Sistem Tanggap Darurat
Saat terjadi kebocoran bahan kimia di jalan raya atau pelabuhan, atau bahkan saat pelayaran, maka petugas pemadam kebakaran biasanya akan mencari nomor UN yang terpasang pada kendaraan atau kemasan.
Berdasarkan nomor tersebut, petugas pemadam kebakaran dapat menentukan:
- media pemadam yang sesuai,
- alat pelindung diri (APD) yang harus digunakan,
- jarak aman evakuasi,
- prosedur penanganan tumpahan,
- tindakan pertolongan pertama.
Karena alasan inilah UN Number menjadi salah satu informasi terpenting dalam sistem manajemen keselamatan bahan kimia.
Mengapa Satu Bahan Kimia Bisa Memiliki Lebih dari Satu UN Number?
Banyak orang mengira setiap bahan kimia hanya memiliki satu UN Number. Padahal, tidak selalu demikian.
Ada bahan kimia B3 yang memiliki UN Number yang spesifik, tetapi ada pula sekelompok bahan kimia dengan sifat bahaya yang mirip menggunakan UN Number yang bersifat umum (generic entry).
Selain itu, perbedaan konsentrasi atau kemurnian juga dapat menyebabkan perubahan UN Number.
Sebagai contoh adalah hidrogen peroksida (H₂O₂).
Bahan oksidator kuat ini memiliki UN Number 2014 apabila konsentrasinya kurang dari 60%.
Namun apabila konsentrasinya 60% atau lebih, maka UN Number yang digunakan adalah 2015.
Perbedaan ini bukan sekadar perubahan angka, tetapi mencerminkan perubahan tingkat bahaya sehingga persyaratan pengemasan, pelabelan, dan pengangkutannya juga berbeda.
Karena itu, menentukan UN Number bahan kimia murni biasanya lebih mudah dibandingkan menentukan UN Number untuk produk campuran (mixture).
Cara Mencari UN Number Bahan Kimia
Menentukan UN Number tidak boleh dilakukan dengan menebak berdasarkan nama dagang produk. Gunakan sumber informasi yang resmi agar tidak terjadi kesalahan klasifikasi.
Berikut beberapa cara yang paling umum digunakan di industri dalam mencari informasi terkait dengan UN Number, yaitu:
1. Melalui Safety Data Sheet (SDS)
Cara paling mudah adalah melihat Section 14 – Transport Information pada SDS.
Pada bagian ini biasanya tercantum informasi seperti:
- UN Number
- Proper Shipping Name
- Hazard Class
- Packing Group
- Environmental Hazard (jika ada)
Untuk pengguna bahan kimia, SDS merupakan sumber informasi pertama yang harus diperiksa.
2. Melalui Label Kemasan
Produsen bahan kimia diwajibkan untuk mencantumkan UN Number pada label kemasan, terutama untuk produk yang diklasifikasikan sebagai Dangerous Goods.
Informasi ini biasanya berada di dekat simbol bahaya atau nama pengiriman resmi (Proper Shipping Name).
3. Melalui ISO Tank Container
Untuk pengiriman dalam jumlah besar menggunakan ISO Tank Container, UN Number biasanya dipasang dalam bentuk papan berwarna oranye atau placard yang terlihat jelas pada bagian depan, samping dan belakang tangki.
Informasi ini memudahkan proses identifikasi selama pengangkutan maupun saat terjadi keadaan darurat.
4. Melalui Daftar Dangerous Goods
Apabila Anda bertugas menyusun SDS, mengklasifikasikan produk baru, atau menangani pengiriman internasional, UN Number juga dapat dicari melalui daftar resmi Dangerous Goods yang diterbitkan berdasarkan rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Daftar tersebut berisi ribuan bahan kimia beserta nama pengiriman resmi, kelas bahaya, dan informasi transportasi lainnya.
Cara Menentukan UN Number untuk Bahan Kimia Campuran
Menentukan UN Number untuk bahan kimia murni umumnya relatif mudah karena nama zat tersebut biasanya sudah tercantum dalam daftar Dangerous Goods.
Namun, prosesnya menjadi lebih kompleks apabila produk yang dikirim berupa campuran (mixture) atau produk kimia hasil formulasi.
Hal ini banyak ditemui pada produk industri seperti:
- Bahan pembersih (cleaning chemical)
- Water treatment chemical
- Cat dan coating
- Tinta (ink)
- Adhesive
- Resin
- Pestisida
- Produk laboratorium
- Formulasi khusus hasil blending
Pada produk seperti ini, tidak selalu tersedia UN Number yang secara spesifik sesuai dengan nama dagangnya. Lalu, bagaimana cara menentukan UN Number untuk produk semacam itu?
Berikut ini adalah langkah-langkahnya.
Langkah 1. Identifikasi Komposisi Produk
Langkah pertama adalah mengetahui komposisi bahan penyusun produk.
Anda dapat memperoleh informasi ini biasanya melalui:
- Formula produk
- Safety Data Sheet (SDS)
- Data dari pemasok bahan baku
- Hasil pengujian laboratorium (jika diperlukan)
Mengetahui komposisi bahan dalam sebuah produk sangat penting karena sifat bahaya campuran ditentukan oleh bahan penyusunnya.
Langkah 2. Tentukan Bahaya Dominan
Langkah selanjutnya adalah menentukan bahaya utama dari produk tersebut.
Tentukanapakah produk tersebut bersifat:
- Mudah terbakar?
- Korosif?
- Beracun?
- Oksidator?
- Gas bertekanan?
- Mudah meledak?
- Berbahaya bagi lingkungan?
Bahaya dominan inilah yang akan menjadi dasar dalam proses klasifikasi UN Number produk hasil formulasi.
Kita lihat satu contoh. Suatu campuran mungkin mengandung bahan yang mudah terbakar sekaligus bersifat korosif. Dalam kondisi tertentu, salah satu sifat bahaya tersebut akan menjadi prioritas dalam penentuan UN Number sesuai aturan klasifikasi barang berbahaya.
Langkah 3. Tentukan Proper Shipping Name
Setelah mengetahui karakteristik bahayanya, langkah berikutnya adalah menentukan Proper Shipping Name (PSN).
Proper Shipping Name merupakan nama resmi yang digunakan dalam dokumen transportasi internasional.
Berikut ini contoh PSN yang sering kita temukan:
- Sulfuric Acid
- Acetone
- Nitric Acid
- Hydrogen Peroxide, Aqueous Solution
- Flammable Liquid, N.O.S.
- Corrosive Liquid, N.O.S.
Apabila tidak tersedia nama spesifik, biasanya digunakan generic entry seperti N.O.S. (Not Otherwise Specified).
Langkah 4. Tentukan Hazard Class dan Packing Group
Setelah Proper Shipping Name diperoleh, maka selanjutnya adalah menentukan Hazard Class, Subsidiary Risk (jika ada) dan Packing Group.
Informasi ini akan menentukan jenis kemasan yang diperbolehkan, jumlah maksimum setiap kemasan, label bahaya, dan persyaratan transportasi.
Langkah 5. Verifikasi Menggunakan Regulasi Resmi
Langkah terakhir adalah mencocokkan hasil klasifikasi dengan regulasi internasional seperti UN Model Regulations, IMDG Code, IATA Dangerous Goods, Regulations, ADR, dan RID.
Proses verifkasi ini biasanya dilakukan oleh personel yang telah memiliki kompetensi dalam klasifikasi Dangerous Goods.
Tips Praktis: Jangan menentukan UN Number hanya berdasarkan produk sejenis di internet atau menggunakan SDS dari merek lain. Dua produk dengan nama dagang yang mirip belum tentu memiliki klasifikasi transportasi yang sama.
Perbedaan UN Number, CAS Number, GHS, dan HS Code
Penting untuk kita ketahui bahwa masih banyak orang yang menganggap UN Number sama dengan CAS Number. Padahal keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda.
| Istilah | Fungsi | Contoh |
|---|---|---|
| UN Number | Identifikasi bahan berbahaya untuk transportasi | UN 1789 |
| CAS Number | Identitas unik suatu zat kimia | 7647-01-0 |
| HS Code | Klasifikasi barang untuk kepabeanan | 2806.10 |
| GHS | Sistem klasifikasi dan komunikasi bahaya | Flame, Corrosion, Skull |
Perlu dicatat bahwa memahami perbedaan ini penting, agar tidak terjadi kesalahan saat menyusun dokumen ekspor, SDS, maupun label.
Sebagai contoh, asam klorida memiliki:
- CAS Number 7647-01-0
- UN Number 1789
Kedua nomor tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan tidak dapat saling menggantikan.
Hubungan UN Number dengan Safety Data Sheet (SDS)
Idealnya, SDS merupakan dokumen pertama yang harus diperiksa ketika ingin mengetahui UN Number suatu bahan kimia, dimana ia biasanya tercantum pada Section 14 – Transport Information bersama informasi lainnya seperti:
- Proper Shipping Name
- Hazard Class
- Packing Group
- Marine Pollutant
- Informasi transportasi darat
- Transportasi laut
- Transportasi udara
Sebagai contoh:
UN Number : 1789
Proper Shipping Name :
Hydrochloric Acid
Hazard Class :
8
Packing Group :
II
Apabila suatu bahan tidak diklasifikasikan sebagai Dangerous Goods, pada bagian tersebut biasanya akan tertulis Not Regulated atau keterangan serupa.
Karena itu, ketika menerima bahan kimia baru dari pemasok, pastikan Section 14 pada SDS telah diisi secara lengkap.
Untuk mencari daftar UN Number atau nomor UN, anda bisa lihat salah satunya di situs wikipedia.org.
Anda bisa lihat daftarnya di sini.



Leave a Reply
Anda harus masuk untuk berkomentar.