15 Istilah Penting dalam Safety Data Sheet (SDS) yang Wajib Dipahami

istilah dalam safety data sheet

Pernahkah Anda menerima Safety Data Sheet (SDS) saat membeli bahan kimia, tetapi hanya melihat sekilas tanpa benar-benar memahaminya?

Jika iya, Anda tidak sendirian.

Di banyak perusahaan, SDS sering kali hanya digunakan untuk memenuhi persyaratan administrasi, padahal dokumen ini menyimpan informasi penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan kerja, cara penyimpanan, desain tempat penyimpanan, penanganan yang aman, hingga tindakan darurat apabila terjadi kecelakaan.

Bagi operator, engineer, staf QC, HSE, purchasing, warehouse, maupun mahasiswa teknik, memahami istilah-istilah yang terdapat dalam SDS merupakan keterampilan dasar yang sangat penting.

Dengan memahami arti setiap istilah, Anda dapat mengambil keputusan yang lebih tepat saat menggunakan atau menangani suatu bahan kimia.

Pada artikel ini kita akan membahas 15 istilah penting dalam Safety Data Sheet (SDS) yang paling sering dijumpai beserta penjelasan praktisnya agar lebih mudah dipahami.

Apa Itu Safety Data Sheet (SDS)?

Safety Data Sheet (SDS) adalah dokumen yang berisi informasi lengkap mengenai karakteristik suatu bahan kimia, potensi bahayanya, cara penggunaan yang aman, prosedur penyimpanan, alat pelindung diri (APD) yang diperlukan, hingga langkah penanganan apabila terjadi keadaan darurat.

Di Indonesia, istilah Material Safety Data Sheet (MSDS) masih cukup sering digunakan. Namun, sejak penerapan Globally Harmonized System (GHS), istilah yang digunakan secara internasional adalah Safety Data Sheet (SDS).

Secara umum, SDS terdiri dari 16 bagian standar internasional, sehingga formatnya relatif sama meskipun diterbitkan oleh produsen yang berbeda.

Namun, tantangan terbesar bukanlah menemukan SDS, melainkan memahami istilah-istilah teknis yang ada di dalamnya.

Mengapa Memahami Istilah dalam SDS Itu Penting?

Sebagian besar kecelakaan kerja yang melibatkan bahan kimia B3 – seperti hidrogen peroksida – bukan disebabkan oleh kualitas produk, melainkan karena informasi pada SDS tidak dipahami atau diabaikan.

Akibat tidak memahami SDS, maka sering ditemukan tindakan yang berbahaya dalam penanganan bahan kimia B3 seperti:

  • Operator menggunakan sarung tangan yang tidak sesuai karena tidak membaca rekomendasi APD.
  • Produk disimpan berdekatan dengan bahan kimia yang tidak kompatibel.
  • Tim logistik salah mengklasifikasikan bahan berbahaya saat pengiriman.
  • Laboratorium menggunakan prosedur penanganan tumpahan yang kurang tepat.
  • Purchasing hanya membandingkan harga tanpa memahami karakteristik bahaya produk.

Padahal, hampir semua informasi tersebut sudah tersedia di dalam SDS.

Sebaliknya, dengan memahami istilah-istilah penting pada SDS, Anda akan dapat:

  • bekerja lebih aman,
  • memilih APD yang tepat,
  • menyimpan bahan kimia dengan benar,
  • mengurangi risiko kecelakaan kerja,
  • memenuhi persyaratan regulasi,
  • mempermudah komunikasi antarbagian seperti produksi, QC, warehouse, HSE, dan logistik.

Singkatnya, semakin baik pemahaman terhadap SDS, semakin kecil pula risiko kesalahan saat menangani bahan kimia.

Hal ini diperparah lagi dengan tidak tersedianya dokumen SDS di area di mana bahan kimia di simpan atau digunakan.

15 Istilah Penting dalam Safety Data Sheet (SDS)

Berikut adalah istilah-istilah yang paling sering ditemui dalam hampir semua SDS. Memahami istilah ini akan membantu Anda membaca dokumen SDS dengan lebih cepat dan tepat.

Dan yang lebih penting, kita menjadi paham. Dari pemahaman yang baik, maka tindakan yang dilakukan akan aman.

1. Hazard Statement (Pernyataan Bahaya)

Hazard Statement adalah kalimat yang menjelaskan jenis bahaya utama dari suatu bahan kimia.

Kalimat ini biasanya diawali dengan kode H (Hazard Code), misalnya:

  • H225 – Cairan dan uap sangat mudah terbakar.
  • H302 – Berbahaya jika tertelan.
  • H314 – Menyebabkan luka bakar serius pada kulit dan kerusakan mata.
  • H318 – Menyebabkan kerusakan mata serius.

Kode H bersifat standar internasional, sehingga arti H225 pada satu produk akan sama dengan H225 pada produk lainnya.

Bagi engineer, supervisor, operator maupun petugas gudang, bagian ini memberikan gambaran cepat mengenai risiko utama suatu bahan kimia sebelum digunakan atau disimpan.

2. Precautionary Statement (Pernyataan Pencegahan)

Jika Hazard Statement menjelaskan bahayanya, maka Precautionary Statement menjelaskan cara mencegah bahaya tersebut.

Kode ini diawali dengan huruf P, misalnya:

  • P210 – Jauhkan dari panas, percikan api, permukaan panas, dan sumber penyalaan.
  • P280 – Gunakan sarung tangan pelindung, pakaian pelindung, pelindung mata, atau pelindung wajah.
  • P305 + P351 + P338 – Jika terkena mata, bilas dengan air selama beberapa menit dan lepaskan lensa kontak jika memungkinkan.

Bagian ini sangat bermanfaat saat menyusun SOP penanganan bahan kimia, instruksi kerja operator, pelatihan keselamatan, dan prosedur penyimpanan.

3. Signal Word (Kata Sinyal)

Di bagian awal SDS atau pada label kemasan, Anda biasanya akan menemukan salah satu dari dua kata berikut:

  • Danger
  • Warning

Kedua istilah ini disebut Signal Word.

Banyak orang menganggap keduanya sama, padahal tingkat bahayanya berbeda.

Danger

Digunakan untuk bahan kimia dengan tingkat bahaya yang lebih tinggi.

Contohnya:

Warning

Digunakan untuk bahan kimia yang tetap memiliki bahaya, tetapi tingkat risikonya relatif lebih rendah dibanding kategori Danger.

4. Pictogram (Simbol Bahaya)

Selain tulisan, SDS juga menampilkan pictogram atau simbol bahaya berbentuk berlian merah sesuai standar GHS.

Pictogram berfungsi agar pengguna dapat mengenali bahaya hanya dengan melihat simbolnya, bahkan tanpa membaca seluruh isi SDS.

Beberapa pictogram yang paling sering dijumpai antara lain:

  • Mudah terbakar (Flammable)
  • Korosif (Corrosive)
  • Beracun (Acute Toxicity)
  • Oksidator (Oxidizer)
  • Gas Bertekanan (Gas Under Pressure)
  • Bahaya Kesehatan (Health Hazard)
  • Bahaya Lingkungan (Environmental Hazard)

Masing-masing pictogram memiliki arti yang berbeda dan digunakan pada label kemasan maupun dokumen pengiriman.

Apabila Anda sering menangani pengiriman bahan kimia, memahami pictogram juga akan membantu dalam mengidentifikasi produk sebelum membaca informasi yang lebih rinci pada SDS.

5. CAS Number (Chemical Abstracts Service Number)

Salah satu istilah yang hampir selalu muncul pada Safety Data Sheet (SDS) adalah CAS Number.

CAS Number merupakan nomor identitas unik yang diberikan kepada setiap zat kimia. Berbeda dengan nama kimia yang bisa memiliki beberapa sinonim, CAS Number hanya dimiliki oleh satu jenis bahan kimia sehingga tidak menimbulkan kebingungan.

Sebagai contoh:

Nama Bahan KimiaCAS Number
Hidrogen Peroksida7722-84-1
Natrium Hidroksida1310-73-2
Asam Sulfat7664-93-9
Etanol64-17-5

Keuntungan menggunakan CAS Number adalah Anda dapat memastikan bahwa bahan kimia yang dimaksud benar-benar sama, meskipun diproduksi oleh supplier yang berbeda atau memiliki nama dagang yang berbeda.

Selain itu, CAS Number juga sering digunakan untuk:

  • mencari SDS dari suatu bahan kimia;
  • memastikan identitas bahan baku sebelum pembelian;
  • registrasi bahan kimia;
  • penyusunan dokumen ekspor dan impor;
  • pencarian informasi toksisitas maupun regulasi.

6. UN Number (United Nations Number)

Banyak orang mengira CAS Number dan UN Number adalah hal yang sama. Padahal keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda.

UN Number adalah nomor identifikasi internasional untuk pengangkutan bahan berbahaya (Dangerous Goods) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kita lihat beberapa contoh UN number untuk bahan kimia yang umum digunakan:

  • UN 2014 – Hydrogen Peroxide, Aqueous Solution (<60%)
  • UN 2015 – Hydrogen Peroxide, Stabilized (≥60%)
  • UN 1789 – Hydrochloric Acid
  • UN 1824 – Sodium Hydroxide Solution
BACA JUGA  Tahukah Anda Berapa Lama Masa Kadaluarsa Safety Helmet?

UN Number digunakan pada label kemasan, dokumen pengiriman, kendaraan pengangkut, kontainer, tangki ISO, dan dokumen ekspor-impor.

Nomor ini membantu semua pihak dalam rantai logistik memahami jenis bahaya suatu produk dan prosedur penanganannya.

Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai cara menentukan UN Number dan fungsinya? Baca juga artikel kami Apa Itu UN Number? Pengertian, Fungsi, dan Contohnya.

7. Flash Point (Titik Nyala)

Flash Point atau titik nyala adalah suhu terendah ketika suatu cairan menghasilkan uap yang dapat menyala apabila terkena sumber api.

Semakin rendah nilai flash point, semakin mudah bahan tersebut terbakar.

Sebagai contoh:

  • Bensin memiliki flash point sangat rendah sehingga sangat mudah terbakar.
  • Air tidak memiliki flash point karena tidak bersifat mudah terbakar.
  • Hidrogen peroksida bukan bahan yang mudah terbakar, tetapi merupakan oksidator yang dapat mempercepat kebakaran apabila bersentuhan dengan bahan yang mudah terbakar.

Informasi flash point sangat penting ketika kita:

  • merancang gudang bahan kimia,
  • menentukan klasifikasi bahaya,
  • memilih sistem proteksi kebakaran,
  • menyusun prosedur kerja aman.

8. Auto Ignition Temperature (Suhu Penyalaan Otomatis)

Istilah berikutnya yang sering membuat bingung adalah Auto Ignition Temperature.

Auto Ignition Temperature adalah suhu ketika suatu bahan dapat terbakar dengan sendirinya tanpa adanya percikan api atau sumber penyalaan eksternal.

Perbedaannya dengan flash point dapat dilihat pada tabel berikut.

Flash PointAuto Ignition Temperature
Membutuhkan sumber apiTidak membutuhkan sumber api
Terjadi pada suhu lebih rendahTerjadi pada suhu lebih tinggi
Digunakan untuk menilai kemudahan terbakarDigunakan untuk menilai risiko penyalaan spontan

Memahami kedua istilah ini penting saat kita melakukan Hazard Identification, HAZOP, penilaian risiko kebakaran, dan desain penyimpanan bahan kimia.

9. Exposure Limit (Batas Paparan)

Tidak semua bahaya bahan kimia berasal dari kontak langsung. Banyak bahan kimia yang berbahaya apabila terhirup dalam jangka waktu tertentu.

Karena itu, SDS biasanya mencantumkan Exposure Limit, yaitu batas maksimum paparan yang masih dianggap aman bagi pekerja.

Beberapa istilah yang sering muncul antara lain adalah:

  • TWA (Time Weighted Average) – rata-rata paparan selama 8 jam kerja.
  • STEL (Short Term Exposure Limit) – batas paparan dalam waktu singkat, biasanya 15 menit.
  • Ceiling Limit – batas yang tidak boleh dilampaui meskipun sesaat.

Data ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan kebutuhan ventilasi, sistem exhaust, penggunaan respirator, dan frekuensi pemantauan kualitas udara.

10. Personal Protective Equipment (PPE)

Dalam versi Bahasa Indonesia, istilah ini lebih dikenal sebagai Alat Pelindung Diri (APD). SDS akan menjelaskan jenis APD yang direkomendasikan saat menangani suatu bahan kimia.

APD yang dimaksud meliputi:

  • sarung tangan tahan bahan kimia,
  • kacamata keselamatan (safety goggles),
  • face shield,
  • pakaian pelindung,
  • sepatu keselamatan,
  • respirator.

Namun, SDS biasanya tidak hanya menyebutkan “gunakan sarung tangan”, melainkan juga dapat merekomendasikan jenis materialnya secara spesifik, seperti nitrile, neoprene, butyl rubber, dan PVC.

Material APD yang disarankan tentu saja harus kompatibel. Hal ini penting karena tidak semua jenis sarung tangan memiliki ketahanan yang sama terhadap setiap bahan kimia.

Sebagai contoh, sarung tangan yang baik untuk pelarut organik belum tentu cocok digunakan untuk asam kuat atau oksidator.

11. LD50 (Lethal Dose 50%)

Saat membaca SDS, Anda akan menemukan istilah LD50 pada bagian informasi toksikologi.

LD50 (Lethal Dose 50%) adalah jumlah bahan kimia yang diperkirakan dapat menyebabkan kematian pada 50% hewan uji dalam kondisi pengujian tertentu. Nilainya biasanya dinyatakan dalam satuan mg/kg berat badan.

Sebagai contoh:

  • LD50 Oral (Rat): 320 mg/kg
  • LD50 Dermal (Rabbit): 2.000 mg/kg

Lalu, bagaimana cara memahami nilai LD50 ini? Aturan umumnya adalah sebagai berikut:

  • Semakin kecil nilai LD50, semakin tinggi tingkat toksisitas suatu bahan kimia.
  • Semakin besar nilai LD50, semakin rendah toksisitas akutnya.

Namun, perlu diingat bahwa LD50 bukan berarti dosis yang aman untuk manusia. Data ini digunakan sebagai salah satu acuan untuk mengklasifikasikan tingkat bahaya suatu bahan kimia.

12. LC50 (Lethal Concentration 50%)

Jika LD50 berkaitan dengan jumlah bahan yang masuk ke tubuh, maka LC50 (Lethal Concentration 50%) berkaitan dengan konsentrasi bahan kimia di udara yang dapat menyebabkan kematian pada 50% hewan uji selama periode paparan tertentu.

LC50 biasanya digunakan untuk gas, uap, aerosol, dan debu halus. Dan nilainya sering dinyatakan dalam beberapa unit satuan, seperti ppm, mg/L, dan mg/m³.

Parameter ini sangat penting bagi engineer proses, HSE, operator, dan tim tanggap darurat, karena membantu menentukan kebutuhan ventilasi, sistem deteksi gas, hingga jenis respirator yang sesuai.

13. Oxidizer (Bahan Pengoksidasi)

Istilah Oxidizer sering disalahartikan sebagai bahan yang mudah terbakar.

Padahal, keduanya berbeda.

Oxidizer adalah bahan yang tidak selalu terbakar, tetapi dapat mempercepat atau memperbesar kebakaran dengan menyediakan oksigen atau mendukung proses pembakaran.

Contoh bahan oksidator antara lain hidrogen peroksida, natrium hipoklorit (dalam kondisi tertentu), kalium permanganat, dan amonium nitrat.

Apabila di dalam SDS disebutkan bahwa sifat bahan kimia tersebut sebagai oxidizer, maka bahan bahan kimia tersebut harus disimpan terpisah dari

  • pelarut organik,
  • minyak,
  • grease,
  • kayu,
  • kertas,
  • kain,
  • bahan mudah terbakar lainnya.

Sebagai contoh, hidrogen peroksida konsentrasi tinggi memang tidak mudah terbakar, tetapi jika tumpah mengenai bahan organik, kebakaran dapat menjadi jauh lebih hebat

14. Incompatible Materials (Bahan yang Tidak Kompatibel)

Salah satu bagian SDS yang paling sering diabaikan adalah Incompatible Materials.

Padahal, bagian ini menjelaskan bahan-bahan yang tidak boleh dicampur atau disimpan berdekatan karena dapat menimbulkan reaksi berbahaya.

Beberapa contoh yang umum dijumpai:

  • Asam kuat dengan basa kuat.
  • Oksidator dengan bahan organik.
  • Asam dengan sianida.
  • Asam dengan sulfida.
  • Air dengan beberapa bahan kimia yang sangat reaktif terhadap air.

Apabila informasi ini diabaikan maka dapat menyebabkan kebakaran, ledakan, pelepasan gas beracun, kerusakan produk, dan kecelakaan kerja.

15. First Aid Measures (Tindakan Pertolongan Pertama)

Bagian First Aid Measures berisi langkah-langkah pertolongan pertama apabila seseorang terpapar bahan kimia. Pada umunya mencakup beberapa kondisi, antara lain:

  • terkena mata,
  • terkena kulit,
  • terhirup,
  • tertelan.

Misalnya, untuk bahan kimia korosif, SDS umumnya menyarankan agar mata segera dibilas menggunakan air mengalir selama minimal 15 menit dan segera mendapatkan pertolongan medis.

Kesimpulan

Safety Data Sheet (SDS) bukan sekadar dokumen pelengkap saat membeli bahan kimia. SDS merupakan sumber informasi utama yang membantu pekerja mengenali bahaya, memilih alat pelindung diri yang tepat, menyimpan bahan kimia dengan benar, hingga mengambil tindakan cepat saat terjadi keadaan darurat.

Dengan memahami 15 istilah penting dalam SDS seperti Hazard Statement, Precautionary Statement, CAS Number, UN Number, Flash Point, Exposure Limit, hingga First Aid Measures, engineer, operator, petugas gudang, maupun siapa pun akan lebih mudah membaca dan memanfaatkan informasi yang tersedia dalam SDS.

Semakin baik pemahaman terhadap SDS, semakin kecil risiko kesalahan dalam penanganan bahan kimia dan semakin tinggi tingkat keselamatan kerja di lingkungan industri.

Be the first to comment

Leave a Reply